Kasus DBD di Jakarta Meningkat 6 Kali Lipat dalam Sepekan

CNN Indonesia | Senin, 28/01/2019 20:06 WIB
Kasus DBD di Jakarta Meningkat 6 Kali Lipat dalam Sepekan Ilustrasi. Pasien demam berdarah dengue menjalani perawatan di RS Kristen Mojowarno, Jombang, Jawa Timur, Selasa (2/2). (ANTARA FOTO/Syaiful Arif)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Dinas Kesehatan DKI Widyastuti menyatakan telah terjadi peningkatan kasus Demam Berdarah Dengeu (DBD) hingga enam kali lipat dalam kurun sepekan terakhir.

Data per 20 Januari sebelumnya mencatat sebanyak 111 kasus DBD. Per 27 Januari, jumlah kasus tercatat DBD mencapai 613 kasus.

"Kasus DBD di DKI Jakarta pada bulan Januari per tanggal 27 Januari 2019 semalam sebanyak 613 kasus," kata Widyastuti di Kantor Dinas Kesehatan DKI, Senin (28/1).

Setidaknya ada tiga wilayah dengan kasus DBD terbanyak yakni Jakarta Selatan sebanyak 231 kasus, Jakarta Timur sebanyak 169 kasus dan Jakarta Barat sebanyak 153 kasus.


Dari ketiga wilayah tersebut ada lima kecamatan dengan tingkat kejadian (incidence rate atau IR) tertinggi.

IR sendiri adalah perhitungan kejadian per 100 ribu penduduk yang digunakan untuk mengukur proporsi kejadian DBD. Semakin tinggi angka IR, maka semakin tinggi kejadiannya.
Kasus DBD di Jakarta Meningkat 6 Kali Lipat dalam SepekanPetugas melakukan pengasapan (fogging) guna memberantas nyamuk penyebab demam berdarah di Palmerah, Jakarta, Minggu (7/2). (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)


Lima kecamatan dengan IR tertinggi antara lain Jagakarsa dengan 19,27 IR, Kalideres 16,94 IR, Kebayoran Baru 16,54 IR, Pasar Rebo 13,93 IR, dan Cipayung 13,57 IR.

Widyastuti menduga di lima kecamatan itu banyak lahan kosong yang jadi sarang nyamuk Aedes Aegypty.

Untuk wilayah Jakarta Pusat dan Jakarta Utara, jumlah kasus DBD masih terpantau rendah. Sedangkan di Kepulauan Seribu masih terpantau belum ada kasus DBD.

"Kepulauan Seribu kan air laut, tidak terlalu disukai nyamuk. Yang disenangi nyamuk di air tawar," ucap Widyastuti.

Widyastuti mengimbau seluruh masyarakat untuk segera berobat jika mengalami demam mendadak.

Sebagai pertolongan pertama, sambungnya, bisa dilakukan di antaranya minum air sebanyak mungkin. Selain itu, masyarakat bisa minum obat penurun panas sesuai anjuran medis.

"Kalau tidak sembuh, segera berobat," ucap Widyastuti.

Selain demam tinggi, gejala DBD meliputi nyeri otot dan sendi, terdapat bintik merah/ruam di kulit, mual, serta nyeri dan ulu hati. Pada kasus yang parah, dapat terjadi pendarahan dan syok yang membahayakan nyawa.

Widyastuti menyatakan pihaknya telah mengimbau kepada petugas medis, baik di Puskesmas maupun Rumah Sakit untuk segera memberikan pertolongan medis. Ia menginstruksikan agar pasiem dengan gejala demam bisa diberi penanganan untuk demam berdarah.

"Karena DBD infeksi akut, harus (dianggap DBD) sampai terbuki tidak," katanya.
(dis/gil)