Survei LSI Denny JA Usai Debat Capres, Jokowi Unggul Jauh

CNN Indonesia | Rabu, 30/01/2019 15:43 WIB
Survei LSI Denny JA Usai Debat Capres, Jokowi Unggul Jauh Hasil terbaru survei LSI Denny JA, elektabilitas Jokowi-Ma'ruf masih unggul jauh dari Prabowo-Sandi usai debat. Meskipun begitu, tak ada lonjakan signifikan. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA merilis hasil survei terbaru capres-cawapres 2019 usai debat perdana dilaksanakan pada 17 Januari lalu. Hasilnya, elektabilitas paslon nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi)- Ma'ruf Amin masih mengungguli paslon nomor urut 02 Prabowo Subianto - Sandiaga Uno dengan angka cukup signifikan. 

"Menunjukkan bahwa elektabilitas Jokowi - Ma'ruf sebesar 54,8 persen, sementara elektabilitas Prabowo - Sandi sebesar 31,0 persen. Mereka yang belum menentukan pilihan sebesar 14,2 persen ," ucap Peneliti Adjie Alfaraby di kantor LSI Denny JA, Jakarta, Rabu (30/1).


Ia menerangkan survei itu dilakukan pihaknya selama lebih dari sepekan setelah debat capres perdana, yakni kurun waktu 18-25 Januari. Adjie mengatakan pihaknya melakukan survei terhadap 1.200 responden di seluruh provinsi Indonesia secara wawancara tatap muka.


Metode yang digunakan adalah multistage random sampling. Survei tersebut mengandung margin of error sekitar 2,8 persen. 

"Kami juga melengkapinya dengan forum group discussion, analisis media, dan indepth interview," kata Adjie.  

Berdasarkan hal tersebut, Adjie menjelaskan debat capres perdana lalu tidak membuat elektabilitas masing-masing paslon naik signifikan dari survei sebelumnya.

Ia membandingkan dengan hasil survei pada Desember 2017 lalu, paslon 01 mengalami kenaikan sebesar 0,6 persen. Sementara itu, paslon 02 naik 0,4 persen.

"Elektabilitas kedua paslon cenderung stagnan. Meski ada kenaikan, namun tidak signifikan," ucap Adjie.

Adjie mengatakan angka-angka tersebut adalah bukti bahwa debat capres perdana tidak banyak memengaruhi pemilih. Adjie lalu mengatakan elektabilitas kedua paslon juga cenderung stabil setelah lima bulan masa kampanye berjalan.

Usai lima bulan kampanye, lanjut Adjie, Jokowi - Maruf masih mengungguli Prabowo - Sandi terpaut sekitar 20 persen. Namun, menurut dia, masih ada waktu yang cukup untuk mengubah angka-angka tersebut. 

"Masih tersisa waktu dua bulan lebih, waktu yang cukup untuk kedua capres dan tim melakukan berbagai manuver politik ," kata Adjie. 

Berkaca Hasil Survei, TKN Percaya Diri

Sementara itu, menanggapi sejumlah hasil survei yang telah dilakukan, Wakil Tim Kemenangan Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf, Abdul Kadir Karding meyakini bisa mengantar paslon mereka memenangi Pilpres 2019.

"Hingga saat ini kami meyakini Pak Jokowi dan Kiai Ma'ruf akan memenangkan pilpres dengan telak. Ini berdasarkan sejumlah lembaga survei yang kredibel, bukan abal-abal," ujar Karding dalam pesan singkat, Rabu (30/1).

Karding membeberkan dua lembaga survei yang diklaim kredibel oleh TKN, yakni Lingkaran Survei Indonesia dan Litbang Kompas menyebut Jokowi-Ma'ruf masih unggul sekitar 20 persen dari Prabowo-Sandiaga. Litbang Kompas menyebut elektabilitas Jokowi-Ma'ruf sebesar 52,6 persen dan Prabowo-Sandiaga sebesar 32,7 persen untuk Pilpres 2019.

Keunggulan Jokowi-Ma'ruf, kata Karding, bisa dijelaskan secara nalar. Pasangan nomor urut 01 itu, lanjutnya, unggul karena saling melengkapi dari sisi latar belakang.

"Pak Jokowi mantan pengusaha yang matang di pemerintahan dan mengelola birokrasi. Sementara Kiai Ma'ruf matang di bidang ilmu keagamaan. Kombinasi bersatunya ulama dan umara yang ideal," ujarnya.

Selain itu, politikus PKB ini menyebut Jokowi-Ma'ruf merepresentasikan kelompok nasionalis dan Muslim. Dua kelompok itu, kata dia, memiliki kontribusi yang besar bagi kemerdekaan dan kemajuan bangsa.

"Selama ini Pak Jokowi sibuk membangun negara dan menyejahterakan rakyat dengan program-program pembangunannya yang memihak rakyat kecil di desa, pedalaman, dan pulau terpencil. Sementara Kiai Ma'ruf sibuk membenahi dan mencerahkan umat dengan ilmu keagamaannya," ujar Karding.

Atas kombinasi dan kelebihan itu, Karding meyakini rakyat dapat menilai pasangan mana yang rajin bekerja dan yang hanya sibuk menuding sana-sini.

"Mereka (rakyat) tidak akan bisa dikelabui dengan survei abal-abal," ujarnya.

Karding menyorot Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis) yang menyatakan Jokowi-Ma'ruf unggul tipis dari Prabowo-Sandiaga. Karding menilai Puskaptis seperti kubu Prabowo-Sandiaga yang memiliki karakter politik suka menebar hoaks dan sandiwara. Sebab, hasil survei yang disampaikan Puskaptis secara empiris dan epistimologis sudah cacat dan penuh cela.

"Hasil survei Puskaptis serupa dengan karakter politik kubu Prabowo-Sandiaga yang doyan menebar hoaks dan sandiwara. Lembaga survei Puskaptis tak perlu ditanggapi secara serius," ujar Karding.

Terkait hal itu, Karding pun mengungkit keberadaan Puskaptis saat Pilkada DKI Jakarta 2012 dan Pilpres 2014.

Pada Pilkada DKI 2012, Karding mengatakan Puskaptis menyebut pasangan Jokowi-Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok tidak akan bisa mengalahkan Fauzi Bowo-Nachrawi Ramli. Pun pada Pilpres 2014, Karding mengatakan Puskaptis malah menetapkan Prabowo-Hatta Rajasa sebagai pemenang. Padahal, ia berkata nyatakan KPU menetapkan Jokowi-Jusuf Kalla sebagai pemenang Pilpres 2014.

"Jadi biarkan saja mereka menebarkan berbagai macam klaim. Kita tertawakan saja sebagi lelucon di tahun politik. Namanya juga orang cari makan," ujar Karding menyoal hasil survei elektabilitas untuk Pilpres 2019. (jps/kid)