Alasannya, karena pemilihan legislatif dan pemilihan presiden dihelat bersamaan dan ruang publik lebih riuh diisi isu tentang pilpres.
"Caleg dirugikan terutama yang baru karena di saat bersamaan di tingkat nasional isu yang menghiasi ruang publik didominasi kampanye capres-cawapres," kata Lucius dalam diskusi di kantor Formappi, Jakarta, Kamis (31/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Media massa khususnya televisi juga lebih banyak memiliki program bertemakan pilpres. Pembicaraan di media sosial, lanjut Lucius, pun didominasi oleh pilpres.
"Kerja kampanye dari rumah ke rumah. Itu efektif. Kita tahu sendiri kampanye lima bulan, mestinya pemilih sudah punya pilihan soal pilrpes dan capres. Waktu tersisa harusnya jadi strategis untuk caleg," kata Lucius.
Dalam forum yang sama, caleg PDIP Brigita Manohara mengamini bahwa isu pilpres memang mendominasi ruang publik.
Namun, caleg daerah pemilihan (dapil) Lampung I itu tidak terlalu cemas. Dia mengatakan arahan dari partai yang paling utama adalah memenangkan Joko Widodo sebagai presiden.
"Tugas saya yang utama adalah Pak Jokowi menang. Kedua, PDIP menang ," ucap Brigita yang baru kali ini menjadi caleg.
Lihat juga:KPU Tunda Umumkan Caleg Eks Narapidana |
"Tapi dengan cara yang tepat," ucap Brigita.
Caleg partai Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Dedek Prayudi mengatakan hal serupa. Namun, hal itu tidak menyurutkan tekadnya menjadi caleg di Pemilu 2019.
"Kita tetap harus membangun pemahaman bahwa pembangunan politik bukan hanya oleh presiden, tetapi juga oleh DPR atau legislatif," kata Dedek.