Dokter Akan Bedah Lambung Sunarti yang Idap Obesitas

CNN Indonesia | Selasa, 05/02/2019 02:39 WIB
Dokter Akan Bedah Lambung Sunarti yang Idap Obesitas Pengidap obesitas, Sunarti. (CNN Indonesia/Huyogo Simbolon)
Bandung, CNN Indonesia -- Pihak Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung menyatakan akan melakukan beberapa tindakan medis terhadap Sunarti (39), pengidap obesitas asal Karawang, Jawa Barat. Upaya yang diberikan pada Sunarti mulai dari mengatur pola makan sampai rencana pembedahan Bariatrik (pengecilan lambung).

Menurut dokter yang menangani Sunarti, dr. Hikmat Permana, pembedahan pengecilan lambung itu bakal dilakukan mengingat kondisi tubuh pasien sudah cukup membebani sehingga perlu dilakukan tindakan medis.

"Kami berencana melakukan tindakan untuk mengurangi beban hidup kesehatan. Pernafasan terutamanya mengganggu aktivitas pasien," ujar Hikmat di RSHS Bandung, Senin (4/1).


Saat ini, lanjut Hikmat, tim dokter terus memantau kondisi Sunarti yang bobotnya mencapai 148 kilogram. Terutama mengatur pola makan yang beda dari biasanya.
Mengingat kondisi kelebihan berat badannya, Sunarti dirawat menggunakan tempat tidur khusus anti borok atau antidekubitus. Sebab, dikhawatirkan tekanan tubuh Sunarti akan menyebabkan luka atau lecet.

"Karena minimnya gerak tubuh, dia ditempatkan di tempat tidur khusus. Kita juga gunakan penghalang supaya tidak jatuh," katanya.

Menurut dia, Sunarti tidak perlu melakukan puasa untuk mengurangi berat badannya. Dia hanya perlu mengatur jumlah kalori.

"Kita sudah mencari data apa saja yang dia makan selama ini. Misalnya, sehari 2.500 kalori, kita turunkan 10 persennya," jelas spesialis konsultan endokrin metabolik diabetes RSHS itu.

RSHS telah membentuk tim penanganan obesitas Sunarti. Tim tersebut terdiri dari 11 dokter spesialis yang terdiri dari spesialis jantung, paru, gizi, nutrisi, psikiatri dan sebagainya.
"Kami tim medis dan pembedahan akan merencanakan tindakan yang terbaik. Pasien sudah dijamin BPJS dan KIS," ujarnya.
Hanya saja, kata Hikmat, pasien masih membutuhkan biaya tambahan untuk peralatan bedah.

"Semua tim akan bekerja sesuai regulasi yang berlaku. Pembedahan ini tentu akan berhasil kalau ada kerja sama dari semua pihak. Sekaligus mengurangi beban pasien itu sendiri," katanya.

Pembedahan sendiri dapat dilakukan kapan saja. Mengingat setelah pengecekan kesehatan Sunarti tidak ditemukan masalah.

"Sebetulnya kita sudah dapat hasil, tinggal dianalisis ahli gizi. Besok juga dipersiapkan. Tapi bedah ini perlu alatnya dan harus dipesan. Kalau sudah tersida akan kita lakukan pembedahan. Secara pronsip bisa segera dioperasi," katanya.

Dokter bedah digestif dari RSHS, Reno Rudiman menyebutkan bedah Bariatrik sangat efektif untuk tindak lanjut pada penderita obesitas. Ia menjelaskan, bedah pengecilan lambung tersebut merupakan suatu tindakan untuk menurunkan berat badan apabila seluruh program yang dijalankan pasien obesitas tidak berhasil.
"Bedah ini untuk mengecilkan volume lambung. Selain itu, pasien akan beradaptasi pola makannya karena otomatis makannya jadi terbatas," jelasnya.

Program diet biasanya dilakukan untuk mengurangi berat badan. Namun sering gagal karena nafsu makan dan psikis tidak berubah. Lalu, biasanya terjadi konflik batin dalam diri seseorang. Sedangkan bedah Bariatrik, kata Reno, akan membuang sensor atau saraf yang merangsang nafsu makan seseorang.

"Ikut terbuang waktu operasi sehingga tidak ada lagi rasa lapar. Malah dari tim gizi nantinya mengingatkan untuk makan," katanya.

Menurut Reno, setelah bedah dilakukan, dalam dua tahun pasien sudah mencapai berat badan ideal. Dengan syarat tetap menjaga pola makan dengan baik dan jenis makanan yang dikonsumsi harus tetap hati-hati.

"Setelah dua tahun terbiasa, lambung yang diperkecil akan melebar kembali tapi tidak seperti semula. Akhirnya lama-lama kembali ke berat badan tersebut," jelasnya.

Sebelum operasi dilakukan, pasien harus dicek kondisinya. Seluruh organ mulai dari jantung, paru-paru dan sebagainya harus dalam keadaan baik.
Sedangkan pembedahan memerlukan alat khusus bernama Hemorrhoidal Circular Stapler. Alat yang dipakai untuk operasi ini hanya untuk satu kali proses.

"Alat yang sekali pakai untuk pasien harganya tinggi karena masih impor dari luar negeri," ujar Reno. (hyg/ayp)