Aksi KKSB, TNI Sebut Guru di Nduga Trauma dan Enggan Mengajar

CNN Indonesia | Senin, 11/02/2019 19:58 WIB
Aksi KKSB, TNI Sebut Guru di Nduga Trauma dan Enggan Mengajar Ilustrasi masyarakat Papua. (CNN Indonesia/Galih Gumelar)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah guru yang mengajar di beberapa sekolah di Kabupaten Nduga, Papua, tidak mau kembali ke tempat tugasnya. Para guru kini berada di luar Nduga karena trauma akibat penyenderaan, pemerkosaan, maupun ancaman kelompok bersenjata.

"Para tenaga pengajar atau guru tidak mau kembali ke sekolah masing-masing," kata Komandan Distrik Militer 1702/Jayawijaya, Papua, Letnan Kolonel Inf Candra Dianto seperti dikutip Antara, Senin (11/2).

Candra mengatakan kegiatan belajar mengajar berhenti di beberapa sekolah di wilayah operasi kelompok bersenjata. Sejumlah guru dan masyarakat, termasuk anak-anak sekolah mengungsi ke Kabupaten Jayawijaya.



"Sebagai pendatang (nonpenduduk lokal) merasa trauma dan ketakutan. Yang lebih fatal dari kejadian tersebut adalah tidak adanya proses belajar mengajar hingga saat ini di wilayah tersebut. Siswa-siswi SD hingga SMA yang merupakan generasi penerus bangsa tidak dapat mengenyam pendidikan," katanya.

Ia mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Nduga terkait hal ini. Pihaknya berharap para pelajar yang datang ke Jayawijaya bisa segera kembali dan melanjutkan pendidikan di Kabupaten Nduga.

"Saya sudah berkoordinasi dengan pemerintah setempat agar siswa-siswi yang berdatangan ke Wamena seluruhnya dapat melanjutkan sekolah di Kenenyam yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Nduga," katanya.

Guru dan Pelajar Trauma, Tak Mau Kembali ke NdugaAnggota Organisasi Papua Merdeka (OPM) menyerahkan diri. (ANTARA FOTO/Gusti Tanati)
Hingga kini ada sekitar 320 anak asal Nduga yang berada di Kabupaten Jayawijaya menempuh pendidikan di sekolah darurat. Sekolah itu berada di halaman gedung gereja di Elekma, Jayawijaya. Mereka tinggal di rumah sanak keluarga yang sebagian besar berada di Kampung Elekma.

"Hal ini disebakan pascakejadian penyanderaan, pemerkosaan serta ancaman dari KKSB," katanya.


Konflik di Nduga, Papua, pecah ketika terjadi penembakan para pekerja PT Istaka Karya oleh kelompok bersenjata di jembatan di jalur Trans Papua pada akhir 2018 lalu. Sedikitnya 16 pekerja menjadi korban dan telah diidentifikasi jenazahnya.

Dua anggota TNI terluka saat aparat gabungan TNI-Polri kontak senjata dengan kelompok kriminal separatis bersenjata (KKSB) di Yigi, Kabupaten Nduga pada Selasa (11/12).

Sejumlah warga Kabupaten Nduga sempat mengungsi ke hutan belantara. Mereka trauma dan memilih mengungsi ke tempat yang aman untuk menghindari konflik tersebut. Namun beberapa warga telah kembali ke kampung halaman mereka.

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto juga sempat menggelar operasi psikologi dan operasi teritorial di Papua agar warga di sana tidak ketakutan ketika melihat TNI berbaju loreng turun ke lapangan.
(Antara/pmg)