Hal ini ditunjukkan dengan survei terkait pemilihan calon anggota legislatif 2019 di daerah pemilihan (dapil) DKI Jakarta I, II, dan III.
"Ternyata di DKI cukup tinggi bahwa masyarakat sangat memaklumi atau sangat toleransi ketika ada caleg atau parpol atau timses yang memberikan uang," ujar Direktur Riset Charta Politika Muslimin di kawasan Jakarta Selatan, Senin (11/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Metodenya adalah wawancara tatap muka (face to face interview) dan menggunakan kuesioner terstruktur (structured interview).
"Dapil DKI III ini memang paling tinggi penolakan money politic-nya dibanding DKI I dan DKI II. Ketika kita tidak menyebutkan uang, apa sih yang paling diharapkan? Ternyata sembako paling tinggi," jelas Muslimin.
Dapil DKI Jakarta III sendiri meliputi Kepulauan Seribu, Jakarta Utara, dan Jakarta Barat.
Berdasarkan pemaparan tersebut, dapil DKI Jakarta I (Jakarta Timur) memiliki tingkat pemakluman tertinggi terhadap praktik politik uang. Hal ini ditunjukkan dengan jumlah responden terhadap pemakluman sebesar 58,2 persen.
Namun, sebanyak 31,3 persen responden mengaku tak dapat memaklumi politik uang; 10,5 persen menyatakan tidak tahu atau tidak mau menjawab.
Untuk dapil DKI Jakarta II, yang meliputi Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, dan Luar Negeri, terdapat 47 responden yang mengaku memaklumi politik uang. Sementara itu sebesar 41 persen menyatakan tidak memaklumi praktek tersebut dan sisanya tidak menjawab atau tidak tahu.
"Menurut saya pendidikan politik terhadap publik memang masih sangat rendah, terutama parpol dan caleg itu sendiri," kata Muslimin.
(ani/arh)