Ferdinand bahkan menantang pihak TKN dan lembaga survei terkait membuka data seluas-luasnya dari mentahan survei yang dilakukan lawan politiknya itu.
"Survei yang memberikan Jokowi unggul 20 persen itu kami tantang buka mentahan row datanya, buat lembaga juga buka siapa yang biayai survei mereka," kata Ferdinand saat dihubungi CNNIndonesia.com melalui pesan singkat, Kamis (14/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kata Ferdinand, dirinya hanya bisa mentertawakan ucapan Jhony yang bahkan menyebut hasil survei internal dari BPN tidak bisa dipertanggungjawabkan secara akademik.
"Fakta bahwa di setiap kunjungan Prabowo-Sandi selalu jauh lebih meriah berkali lipat bahkan lebih dari tiga kali lipat jumlah massa dibandingkan dengan acara Jokowi-Ma'ruf. Ini fakta nyata yang tidak bisa dibantah. Dan fakta nyata ini sudah sesuai dengan survei internal BPN," kata Ferdinand.
Menurut dia, pihak TKN setiap kali menyebut Jokowi-Ma'ruf unggul hanya sedang menghibur diri atas kentaranya kekalahan yang akan diterima Jokowi-Maruf di April mendatang.
Sebab, kata dia, hal ini terlihat jelas dari sikap Jokowi dan Ma'ruf yang tampak panik dan cenderung banyak menyerang karena rendahnya elektabilitas pasangan ini.
"Mereka hanya sedang menghibur diri, justru dari seluruh gerak gerik Jokowi-Ma'ruf terlihat jelas bahwa mereka sedang panik dan tidak nyaman dengan elektabilitas yang ada sehingga lebih banyak menyerang," katanya.
Sebelumnya Lembaga survei Y Publica merilis hasil survei yang digelar 8 Desember 2018 hingga 8 Januari 2019. Survei menunjukkan elektabilitas pasangan Jokowi-Ma'ruf masih unggul dari pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Pilpres 2019.
Saat itu, elektabilitas Jokowi-Ma'ruf sebesar 53,5 persen dan Prabowo-Sandiaga sebesar 31,9 persen.
[Gambas:Video CNN] (tst/ugo)