Hal itu lebih disebabkan oleh upaya masyarakat untuk mematuhi hukum adat demi menjaga lingkungan.
"Jadi sesungguhnya bukan ada faktor politik," kata Ngabalin saat dikonfirmasi lewat sambungan telepon, Kamis (14/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini bukan baru pertama kali Baduy, memang bukan baru sekarang mereka punya kultur tertutup begitu. Ini kan budaya yang sudah berpuluh tahun turun-temurun," ujarnya.
Lihat juga:Prabowo 'Diam-diam' Kunjungi Warga Baduy |
Sebelumnya, masyarakat adat Baduy yang tinggal Desa Kanekes, Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten menolak dana desa sebesar Rp2,5 miliar yang dikucurkan pemerintah Joko Widodo untuk pembangunan infrastruktur.
Penolakan bantuan dana desa oleh masyarakat adat Baduy disampaikan oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DPMPD) Kabupaten Lebak Rusito. Menurutnya, warga Baduy khawatir pembangunan infrastruktur dari dana Desa itu merusak kelestarian adat.
Masyarakat Baduy, kata dia, mengkhawatirkan jika menerima dana desa untuk pembangunan infrastruktur tergusur nilai-nilai budaya dan adat mereka hilang.
Sebab, permukiman adat Baduy seperti di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar menolak kehidupan modern, termasuk pembangunan jalan, penerangan listrik dan alat-alat elektronik.
Sementara, masyarakat Baduy harus patuh dan taat terhadap adat leluhurnya, sehingga keberatan jika permukiman adat itu mendapat bantuan dana desa.
[Gambas:Video CNN] (fra/arh)