Soal Jarak Jadi Alasan Prabowo Tak Hadir Tanwir Muhammadiyah

tst, CNN Indonesia | Sabtu, 16/02/2019 04:40 WIB
Soal Jarak Jadi Alasan Prabowo Tak Hadir Tanwir Muhammadiyah Prabowo Subianto disebut tak bisa datang ke Tanwir Muhammadiyah di Bengkulu, Jumat (15/2) karena jarak yang jauh. (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)
Jakarta, CNN Indonesia -- Direktur Materi dan Debat Sudirman Said membeberkan alasan calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto tak hadir dalam kegiatan Tanwir Muhammadiyah yang digelar di Bengkulu hari ini, Jumat (15/2).

Menurut Sudirman hal teknis soal jarak tempuh jadi salah satu alasan Prabowo tak bisa memenuhi undangan Muhammadiyah untuk hadir dalam kegiatan besar itu.

"Soal teknis ya, karena letak Tanwirnya itu, dimana itu ya jauh di Bengkulu ya kalau gak salah," kata Sudirman di Grand Ballroom Hotel Po, Semarang, Jawa Tengah.


Meski begitu kata dia, Prabowo sangat menghargai undangan dari Muhammadiyah tersebut. Sudirman mengatakan kesempatan bertemu dan silaturahmi tak hanya dilakukan dalam kegiatan Tanwir, melainkan bisa dilakukan kapan pun.

"Kita hargai undangan Muhammadiyah, sebenarnya kita banyak kesempatan untuk interaksi dengan Muhammadiyah tapi kita terima kasih sudah diundang," katanya.

Tanwir Muhammadiyah digelar hari ini di Bengkulu. Acara sedianya mengundang dua calon presiden, Prabowo Subianto dan Joko Widodo. Namun hanya Jokowi yang datang.

Jokowi datang dalam kapasitasnya sebagai Presiden. Dia turut memberi sambutan dalam kegiatan tanwir itu.

Sementara itu, Prabowo memiliki agenda kampanye di Jawa Tengah. Dia menggelar pidato kebangsaan di hadapan simpatisannya.

Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir menyinggung tensi politik selama Pilpres dalam pembukaan tanwir. Dia mengatakan belakangan ini keluhuran adab bangsa dilunturkan dengan ambisi politik. 

"Arus besar itu kadang kalah dengan bertumpuknya kecenderungan orientasi politik yang mengeras," kata Haedar.

Menurut dia, fanatisme dalam politik membuat satu sama lain terbelah, dan saling berhadapan atas nama kontestasi politik. Orientasi politik yang mengeras, kata Haedar, membuat politik seolah menjadi urusan hidup mati.

"Perangai politik yang fanatik buta demi kemenangan politik semata," kata Haedar menegaskan. (tst/wis)