"Tsunami yang membahayakan bukan airnya saja, tapi kecepatannya bisa 700 km/jam, ditambah material kayu dan batu dalam airnya bisa sangat mematikan. Ini tidak ada yang tahan. Ini mesin pembunuh nomor satu," kata dia, di Graha BNPB, Jakarta, Kamis (21/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena ada tanaman, walau pohonnya hancur tapi sudah mengurangi tekanan air tsunami. Bisa juga dipanjat. Kalau tsunami memang tidak bisa tiba-tiba langsung dipanjat. Makanya bisa ditaruh tali atau tangga," ucapnya.
Lihat juga:Makam Massal Korban Tsunami Aceh Dibongkar |
Di sisi lain, Doni menyoroti pemahaman masyarakat soal tanggap darurat bencana. Menurutnya, pemerintah tidak mungkin membangun shelter atau bangunan tempat berlindung di setiap titik wilayah yang potensial terdampak tsunami.
Menurutnya, gempa yang diikuti tsunami di Palu memakan sangat banyak korban karena masyarakat tak langsung pergi setelah merasakan gempa.
"Sehingga proses mencari keluarga ini harus diingatkan. Tidak ada pilihan lain selain menyelamatkan diri sendiri. Ketika hendak mencari orang lain, kemungkinan besar menjadi korban," imbuhnya.
[Gambas:Video CNN] (chri/arh)