BNPB Sebut Tsunami Pembunuh Nomor Satu dengan 6.531 Korban

CNN Indonesia | Kamis, 21/02/2019 17:26 WIB
BNPB Sebut Tsunami Pembunuh Nomor Satu dengan 6.531 Korban Kepala BNPB Doni Monardo menyebut tsunami sebagai pembunuh nomor satu. (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo menyatakan tsunami merupakan mesin pembunuh nomor satu di Indonesia. Dalam catatan BNPB sebanyak 6.531 orang meninggal akibat tsunami dan gempa bumi pada periode 2009-2018.

"Tsunami yang membahayakan bukan airnya saja, tapi kecepatannya bisa 700 km/jam, ditambah material kayu dan batu dalam airnya bisa sangat mematikan. Ini tidak ada yang tahan. Ini mesin pembunuh nomor satu," kata dia, di Graha BNPB, Jakarta, Kamis (21/2).

Menurut Doni, korban akibat tsunami ini bisa diminimalisasi melalui banyak cara. Salah satunya adalah penanaman tumbuhan di pesisir pantai atau mangrove. Bahkan, kata dia, pohon kelapa pun terbukti bisa menyelamatkan sejumlah orang dari tsunami.

Doni menyebut vegetasi-vegetasi itu sudah menyelamatkan sejumlah orang saat tsunami di Aceh, Pantai Carita, Palu, dan Donggala.

"Karena ada tanaman, walau pohonnya hancur tapi sudah mengurangi tekanan air tsunami. Bisa juga dipanjat. Kalau tsunami memang tidak bisa tiba-tiba langsung dipanjat. Makanya bisa ditaruh tali atau tangga," ucapnya.

Ia menyadari vegetasi memang bukan solusi jangka pendek karena proses tumbuh pohon memerlukan waktu. Namun, jika penanaman digiatkan saat ini maka hal itu bisa menyelamatkan generasi mendatang.

Di sisi lain, Doni menyoroti pemahaman masyarakat soal tanggap darurat bencana. Menurutnya, pemerintah tidak mungkin membangun shelter atau bangunan tempat berlindung di setiap titik wilayah yang potensial terdampak tsunami.

Menurutnya, gempa yang diikuti tsunami di Palu memakan sangat banyak korban karena masyarakat tak langsung pergi setelah merasakan gempa.

"Semua daerah harus paham ketika sudah jelas gempa besar langsung kabur. Ada tsunami yang dua menit bahkan satu menit sudah sampai ke daratan," ujar mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Kusus (Kopassus) ini.

"Sehingga proses mencari keluarga ini harus diingatkan. Tidak ada pilihan lain selain menyelamatkan diri sendiri. Ketika hendak mencari orang lain, kemungkinan besar menjadi korban," imbuhnya.

[Gambas:Video CNN]


(chri/arh)