Alami Peningkatan Aktivitas, Status Merapi Tetap Waspada

CNN Indonesia | Jumat, 22/02/2019 00:56 WIB
Alami Peningkatan Aktivitas, Status Merapi Tetap Waspada Meskipun ada peningkatan aktivitas vulkanis sebulan terakhir, BPPTKG menyatakan status gunung Merapi masih tetap pada level II (Waspada). (ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho)
Yogyakarta, CNN Indonesia -- Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegempaan Geologi (BPPTKG) masih tetap mempertahankan status Gunung Merapi pada level II atau Waspada, meski terjadi peningkatan aktivitas vulkanis dalam sebulan terakhir.

BPPTKG melaporkan aktivitas kegempaan di gunung teraktif di Indonesia itu selama satu bulan terakhir tercatat 14 kali gempa vulkanik dangkal, 39 kali gempa vulkanik fase banyak, 34 kali gempa frekuensi rendah, 81 kali gempa hembusan, dan 1216 kali gempa guguran.

"Secara keseluruhan mengalami peningkatan dibanding dengan periode sebelumnya. Hal ini menandakan bahwa suplai magma ke permukaan masih berlangsung dan cenderung meningkat," kata Kepala BPPTKG Hanik Humaida dalam siaran pers yang diterima CNNIndonesia.com, Kamis (21/2).


Meski demikian, sambungnya, saat ini kubah lava masih stabil dengan laju pertumbuhan rendah. Selain itu, berdasarkan analisis morfologi kubah lava Gunung Merapi pertumbuhannya pun masih relatif sama seperti bulan sebelumnya dengan volume kubah lava sebesar 461.000 meter kubik.


Hanik mengatakan material ekstrusi lava yang dikeluarkan sebagian besar langsung meluncur membentuk guguran lava atau awan panas guguran.

"Aktivitas Gunung Merapi sejak tanggal 29 Januari 2019 memasuki fase pembentukan guguran lava dan awan panas guguran," ucap Hanik.

Menurut data seismik 20 Februari 2018, pukul 00.00-24.00 WIB, Gunung Merapi tercatat memuntahkan satu kali guguran lava ke arah Kali Gendol dengan jarak luncur 650 meter.

Sebelumnya, BPPTKG juga mencatat adanya awan panas guguran keluar dari Gunung Merapi ke arah Kali Gendol, pada 18 Februari 2018 sebanyak 7 kali dengan jarak luncur maksimum 1000 meter. Hingga saat ini, jarak luncur guguran lava dan awan panas maksimum 2.000 meter dan masih berpotensi terjadi dengan jarak luncur kurang dari 3.000 meter.

Hanik mengatakan jarak luncuran itu belum mengancam keselamatan penduduk di pemukiman yang berjarak paling dekat 4,5 kilometer dari puncak Gunung Merapi.

"Apabila terjadi atau berpotensi terjadi awan panas dengan jarak luncur melebihi 3000 meter maka rekomendasi tingkat aktivitas akan dievaluasi," kata Hanik.

Walaupun begitu, akibat serangkaian guguran itu, masyarakat dan pemerintah daerah diminta untuk mempersiapkan prosedur penanganan kondisi darurat terhadap aktivitas masyarakat atau wisatawan di alur Kali Gendol dan sekitarnya.

BPPTKG juga mengimbau warga tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari puncak Gunung Merapi dan mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik, serta mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di seputar Gunung Merapi.


[Gambas:Video CNN] (dea/kid)