Doni menyatakan penyebab karhutla di setiap daerah memang berbeda-beda. Pembakaran oleh manusia juga didasari banyak alasan seperti kebiasaan atau budaya hingga suruhan demi imbalan.
"Ujung-ujungnya masalah perut, lapangan pekerjaan. Mereka yang mau bakar sebagian besar belum mempunyai pekerjaan tetap," kata Doni di Graha BNPB, Jakarta, Kamis (21/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, terdapat 2.688 pengaduan dan 2.429 pengawasan perizinan periode 2015-2018.
Hal ini berdampak pada menurunnya tingkat kebakaran hutan dan lahan. Beberapa daerah di Indonesia seperti Riau dan Kalimantan tak lagi tertutup asap karhutla.
Edukasi masyarakat disebut memerlukan peran serta tokoh setempat mulai dari ulama dan tokoh adat.
"Karena kalau dibiarkan terus berapa banyak biaya yang kita keluarkan untuk mencegah dan memadamkan api belum lagi kerugian sosial dan kesehatan, bagaimana anak-anak bisa cerdas dan bagus kesehatannya kalau setiap tahun harus menghirup udara tercemar," tutur mantan Komandan Kopassus ini.
Pemerintah harus menanggung sekitar Rp221 triliun atau US$16,1 miliar akibat karhutla. Sementara itu, pemerintah mengeluarkan biaya US$7 miliar untuk membangun Aceh kembali. (chri/wis)