"Menurut saya tidak pantas disebut sebagai doa atau puisi. Neno adalah contoh paling gamblang bagaimana agama dijadikan kedok untuk tujuan politik," kata Karding dalam keterangannya, Sabtu (23/2).
Diketahui, Neno membacakan doa yang sebagian intinya meminta kemenangan dalam Pilpres nanti. Doa ini menuai kontroversi karena ada satu bait yang berisi kekhawatiran jika tak memenangkan Pilpres maka tak ada lagi yang menyembah Allah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, Politikus PKB itu menyatakan diksi 'tak ada lagi yang menyembah Allah' sengaja dipilih Neno untuk menggiring opini publik.
"Pertanyaan saya, dari mana Neno bisa mengambil kesimpulan itu? Apa ukurannya sampai ia bisa mengatakan jika pihaknya kalah maka tak akan ada lagi yang menyembah Allah?" Kata dia.
"Pak Jokowi-Ma'ruf juga umat Islam yang juga menjalankan shalat, zakat, haji, dan berbagai kelompok lintas agama. Apa Neno merasa cuma dia dan kelompoknya yang menjalankan ibadah?" kata dia.
Karenanya Karding menilai Neno sedang terjebak pada fanatisme politik saat ini. Hal itu tertuang dalam tiap ucapannya yang kerap mendiskreditkan lawan politiknya.
"Ucapannya bukan saja mendiskreditkan kelompok yang berlainan politik dengannya tapi bahkan juga berani mendikte dan mengancam Tuhan," kata dia. (rzr/osc)