Ucok mengatakan sedikitnya ada tiga orang yang terindikasi berpaham radikal di wilayahnya. Dia juga menyebut ciri-ciri ketiga orang itu dalam kehidupan bermasyarakat.
"Diidentifikasi baru tiga orang, (ciri-cirinya) menutup diri, menolak komunikasi tetangga, menolak komunikasi selayaknya bertetangga, suami rela meninggalkan anak istri," kata Ucok di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Senin (25/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam hal ini, kata Ucok, pihaknya selalu berkoordinasi dengan Densus 88 dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang ada di wilayah Kepri dan Sumatera.
Ponpes Darul Muklasin sendiri merupakan salah satu ponpes yang ada di Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Pengurus Ponped Darul Muchlasin, Muhamad Muslim mengatakan ponpes tersebut memiliki 38 santri. Ponpes tersebut, kata Muslim, memiliki program unggalan yakni tiap santrinya mampu menghafal Alquran 30 juz.
Muslim, selaku pengelola ponpes menuturkan dengan program tersebut diharapkan mampu membuat para santri terbebas dari paparan paham radikalisme.
"Harapannya para santri ini jangan sampai radikal, jangan terpengaruh kebencian dengan negara Indonesia, kunjungan ini supaya para santri tidak mengikuti radikalisme," kata Muslim di Ponpes Darul Muchlasin.
Program deradikalisame dan kontra radikalisme di ponpes tersebut, kata Muslim tak membuat pihaknya menaruh curiga bahwa kepolisian mencurigai ponpes sebagai tempat penyebaran paham radikalisme. Program itu, sambungnya, justru membuat pihaknya merasa terlindungi.
"Perasaan dari kami datangnya polisi merasa aman terlindungi diperhatikan, penegak hukum," ujar Muslim. (dis/pmg)