Wulan menduga emak-emak yang berkampanye jika Jokowi menang azan dilarang dan pernikahan sejenis sah itu hanya simpatisan PEPES.
Wulan mengatakan PEPES memiliki data keanggotaan di setiap daerah. Ia mengaku telah memeriksa data tersebut dan tak menemukan nama tiga ibu itu di dalamnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Enggak ada arahan seperti itu (kampanye hitam)," ujar Wulan.
"Kita selalu bicara SOP, juklak (petunjuk pelaksanaan)-nya dalam regular meeting di daerah. Kita tidak pernah mengarahkan kampanye hitam," ujar Wulan.
Wulan menyebut mungkin saja ibu-ibu itu tak memiliki pengetahuan yang memadai. Tetapi itu tak bisa menjadi justifikasi bahwa mereka melakukan kampanye hitam.
"Jadi seharusnya yang dilakukan adalah pendekatan edukasi. Bukan pendekatan hukum kepada mereka," ujar dia.
Wulan pun membandingkan apa yang dilakukan tiga ibu di Karawang itu dengan relawan Jokowi-Ma'ruf Amin. Dia menuding relawan Jokowi-Ma'ruf pun pernah berkampanye dengan cara menjelekkan Prabowo-Sandi.
"Seperti yang di Jawa Tengah. Videonya viral, ada seorang ibu menjelekkan Prabowo. Kalau ibu-ibu di Karawang ditangkap, harusnya mereka juga ditangkap," kata Wulan.
Hal itu diketahui setelah tim hukum PEPES mengunjungi para ibu-ibu itu.
"Harusnya sekarang mereka sudah bebas," kata Wulan.
Wulan menuturkan dirinya sampai saat ini terus mencoba memberikan bantuan hukum kepada ibu-ibu di Karawang tersebut. PEPES, kata Wulan, telah mendapatkan bantuan hukum dari sejumlah pihak, termasuk dari Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi terkait kasus tiga ibu di Karawang itu.
Tonton juga video: 'Emak-emak Deklarasi Dukung Prabowo-Sandi
[Gambas:Video CNN] (wis/sur)