Soal Profesi Tentara, TKN Sindir Prabowo Tak Tuntas di TNI

CNN Indonesia | Kamis, 28/02/2019 19:43 WIB
Soal Profesi Tentara, TKN Sindir Prabowo Tak Tuntas di TNI Dwi Badarmanto mengkritik Prabowo selaku pensiunan jenderal bintang tiga tak sepatutnya menyebut profesi tentara sebagai pekerjaan yang kurang mulia. (CNN Indonesia/Prima Gumilang)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Direktur Informasi dan Publikasi TKN pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin, Marsekal Pertama (Purn) Dwi Badarmanto mengkritik calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto yang menyatakan TNI sebagai profesi kurang mulia.

Ia menilai tak sepatutnya Prabowo yang merupakan pensiunan Jendral bintang tiga TNI melontarkan kalimat tersebut di depan publik.

"Itu dia [Prabowo], mantan jendral bintang 3 pula, mana boleh seperti itu. Tak patut bicara seperti itu [TNI pekerjaan kurang mulia]," kata Dwi saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (28/2).


Diketahui, jabatan Prabowo terakhir saat aktif di TNI yakni sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis TNI AD (Pangkostrad). Kala itu pangkat Letnan Jendral atau bintang tiga sudah berada dipundak Prabowo saat memikul jabatan tersebut.

Dwi menegaskan semua pekerjaan sangat mulia, termasuk menjadi prajurit TNI. Tugas personel TNI menurutnya mulia karena punya tugas melindungi seluruh warga negara Indonesia dan mempertahankan kedaulatan NKRI.

Tak jarang, kata dia, personel TNI harus mengorbankan nyawa demi melindungi dan mempertahankan kedaulatan NKRI dari rongrongan gangguan pihak luar.

"Itu pengakuan beliau aja kali. TNI ini kan kerjaannya untuk pertahanan negara, siapapun yang akan coba-coba menghancurkan negara ya TNI ada di depan. Untuk melindungi warga negara Indonesia itulah tugas TNI," kata dia.
Soal Profesi Tentara, TKN Sindir Prabowo Tak Tuntas di TNIPrabowo Subianto. (CNN Indonesia/Tiara Sutari)

Mantan Kepala Dinas Penerangan TNI AU lantas mengungkit karier Prabowo yang tak tuntas ketika berdinas di TNI sehingga melontarkan pernyataan yang tak pantas tersebut di depan publik.

Diketahui, berdasarkan surat keputusan Dewan Kehormatan Perwira (DKP) bernomor KEP/03/VIII/1998/DKP pada tahun 1998 lalu menyebut pertimbangan yang melatari rekomendasi pemecatan Prabowo.

Surat itu menyebut ada penyalahgunaan wewenang dan pelanggaran prosedur, seperti pengabaian sistem operasi,dan disiplin hukum di lingkungan ABRI.

"Bagaimana TNI bukan dijadikan pekerjaan yang mulia? Apa karena beliau tak tuntas di TNI sehingga berkata seperti itu?" Ucap dia.

Prabowo menyebut profesi sebagai tentara bukanlah pekerjaan yang terlalu mulia. Hal ini ia bandingkan dengan profesi tenaga kesehatan semacam dokter atau perawat.

Prabowo menyatakan profesi sebagai tentara justru menghilangkan nyawa.

"Bukan saya nggak loyal, kalau bisa ya tapi kita (tentara) kan tugasnya menghilangkan nyawa. Pekerjaan tenaga kesehatan itu sebetulnya mulia, menyelamatkan nyawa," kata Prabowo. (rzr/gil)