'Pembawa Pesan' Jokowi: Salah Alamat, Ditolak Kubu Prabowo

Setyo Aji Harjanto, CNN Indonesia | Jumat, 01/03/2019 16:43 WIB
'Pembawa Pesan' Jokowi: Salah Alamat, Ditolak Kubu Prabowo Salah satu relawan 'Pembawa Pesan' yang enggan disebut identitasnya. (CNN Indonesia/Setyo Aji Harjanto)
Jakarta, CNN Indonesia -- ASO (26), salah seorang relawan, menunjukkan kalender, poster, pulpen, stiker, tabloid 'Pembawa Pesan', hingga visi-misi pasangan calon presiden-wakil presiden Joko Widodo-Ma'ruf Amin. Ia mengaku bertugas mengantarkan barang-barang yang jadi satu bingkisan itu dari rumah ke rumah dengan alamat yang jelas.

Lelaki yang memiliki wilayah operasi di Jakarta Pusat ini mengaku direkrut sebagai relawan lewat informasi mulut ke mulut. Sejak resmi jadi relawan, ia mendapat atribut berupa jaket parasut hitam bertuliskan 'Pembawa Pesan' dan kartu identitas.


Tak ketinggalan, ASO dibekali dengan aplikasi bernama 'Pembawa Pesan'. Di dalamnya terdapat nomor kurir dan alamat tujuan. Aplikasi itu juga digunakan untuk melaporkan hasil pengiriman bingkisan pembawa pesan. ASO harus mengunggah foto penerima ke aplikasi tersebut sebagai bentuk laporan.


Membawa tas besar warna hitam bertuliskan 'Pembawa Pesan', ia beredar dari rumah ke rumah, seringnya, dengan menggunakan sepeda motor.

Sebagai pembawa pesan, dia paham betul risiko yang harus dihadapinya, mulai dari penolakan hingga risiko gesekan. Namun, hal tersebut tidak terlalu dipikirkan olehnya. Dia hanya menjalankan tugas sesuai dengan arahan dari koordinator wilayahnya.

"Yang penting ramah dan enggak usah dibawa emosi saja," ujarnya, kepada CNNIndonesia.com, di Jakarta, Kamis (28/2).

ASO adalah salah satu relawan 'Pembawa Pesan' yang memiliki misi menyampaikan paket ke rumah-rumah warga. Nama kelompok relawan ini sempat mencuat saat isu penolakan oleh warga Kampung Akuarium, Penjaringan, Jakarta Utara, belum lama ini.
'Pembawa Pesan' Jokowi: Salah Alamat, Ditolak Kubu PrabowoSuasana Kampung Akuarium. (Foto: CNN Indonesia/M. Andika Putra)


Si pembawa pesan di Kampung Akuarium itu disebut memaksa warga untuk menerima bingkisan yang bertuliskan 'Pembawa Pesan' dan menyerahkan data diri berupa fotokopi Kartu Keluarga dan Kartu Tanda Penduduk.

ASO mengaku beberapa kali mengalami penolakan dari rumah yang disambanginya. Namun, itu tak sampai memicu konflik fisik. Si penerima bingkisan, kata ASO, mulanya curiga dengan isi dari kotak tersebut. Ia pun menjelaskan soal itu meski si penerima tetap bersikeras menolaknya.

Salah satunya, saat ia mengantarkan bingkisan ke seorang pendukung Pasangan Calon Nomor Urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

"Dia bilang 'maaf saya pendukung nomor 02'. Ya sudah saya bilang 'oh maaf-maaf', tapi Alhamdulillah enggak ada gesekan," ujarnya.

'Pembawa Pesan' Jokowi: Salah Alamat, Ditolak Kubu PrabowoPrabowo-Sandi dalam acara debat Pilpres. (Foto: ANTARA FOTO/Galih Pradipta)

ASO juga menyebut memiliki teman yang sempat diusir saat membagikan bingkisan itu. Kawannya itu, kata ASO, masuk ke wilayah yang mayoritas pendukung Paslon Nomor 02. Namun, kata dia, temannya itu diusir dengan cara yang cukup sopan.

"Karena kan biasanya anak muda sekarang main nyelonong-nyelonong aja enggak tahu ada banner bendera Gerindra dia main masuk saja," katanya.

Alamat Tertentu

ASO menegaskan bingkisan pembawa pesan itu tidak dibagikan secara acak. Di bingkisan tersebut sudah tertera alamat penerima dan pengirim.

Alamat-alamat itu, kata dia, didapatkan dari Koordinator Pembawa Pesan di Wilayah Kecamatan. Namun, ASO tidak mengetahui banyak mengenai asal-muasal data penerima bingkisan tersebut.

Sepengetahuannya, data penerima alamat itu didapatkan dari hasil survei. Nama-nama yang tertera di alamat itu, kata ASO, adalah data masyarakat yang mendukung Jokowi.

Meski sudah mengantongi alamat penerima, Tak jarang ASO menyambangi rumah yang salah.

"Ada yang bilang sudah bukan rumah yang tertera di alamat. Terus juga ada juga yang tetangganya, tapi saya jelasin alamatnya," ujar ASO kepada CNNIndonesia.com, di Jakarta, Kamis (28/2).

Bingkisan 'Pembawa Pesan'.Isi bingkisan 'Pembawa Pesan' lainnya. (CNN Indonesia/Setyo Aji Harjanto)
Ia mengatakan relawan pembawa pesan sudah bergerak dari rumah ke rumah sejak akhir Januari 2019 lalu dan berakhir pada Maret 2019.

Untuk setiap paket yang diantarnya, ASO mengaku memperoleh imbalan dengan wilayah kerja satu kelurahan. Dalam waktu lima hari, dia ditarget oleh Koordinator Wilayah Kecamatan untuk membagikan 150 bingkisan.

Rekrutmen

Relawan 'Pembawa Pesan' lainnya, RA, mengaku ditugaskan oleh Koordinator Wilayah Kecematan, sebagai perekrut relawan di sekitar kediamannya. Sistem rekrutmennya hanya dari mulut ke mulut. Dia menawarkan pekerjaan ini kepada orang-orang yang sekiranya mendukung Jokow-Ma'ruf.

Selain itu, RA mengaku ada sejumlah persyaratan bagi kurir pembawa pesan. Di antaranya, memiliki ponsel pintar, tahu wilayah, dan memiliki motor.

"Saya dimintai tolong nyari orang, itu dia handle sendiri untuk mengatur bawahan dia (Koordinator Kecamatan), karena saya enggak mau pegang, jadi kalau ada masalah dia (koordinator) yang menegur," ujarnya.

Namun, ia tidak bisa memastikan bahwa 'Pembawa Pesan' terafiliasi langsung atau tidak dengan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin. RA hanya menyebut bingkisan pembawa pesan ini berasal dari kelompok relawan Jokowi yang bermarkas di salah satu kawasan di Jakarta Selatan.

Sebelumnya, ada pula tabloid 'Pembawa Pesan' yang diedarkan di Jakarta.Sebelumnya, ada pula tabloid 'Pembawa Pesan' yang diedarkan di Jakarta. (Dok. Istimewa)
"Yang saya tahu sih dari Koordinator Kecamatan itu bingkisan dari Sahabat Jokowi," kata RA.

Terkait kegiatan relawan ini, Badan Pengawas Pemilihan Umum (Pemilu) menyatakan bahwa pembagian bingkisan itu tidak melanggar aturan kampanye. Hanya saja, Bawaslu menyoroti pemaksaan yang dilakukan oleh relawan pembawa pesan itu.

Sementara itu, Tim Kampanye Nasional (TKN) masih mengelak bahwa para 'Pembawa Pesan' ini merupakan bagian dari pihaknya. Direktur Saksi Tim TKN Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Lukman Edy, hanya mengaku melimpahkan kekuatan semua relawan, termasuk 'Pembawa Pesan', untuk kampanye dari pintu ke pintu (door to door).

[Gambas:Video CNN] (arh/gil)