Keunggulan itu, di antaranya, terjadi pada kategori pemilih segmen perempuan dan masyarakat pedesaan, serta ditopang oleh kinerja ekonomi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Barisan Emak-emak Militan (BEM) menuntut Presiden Joko Widodo mundur dari jabatannya di kantor KPU, Senin (3/9). (CNN Indonesia/Bintoro Agung Sugiharto) |
Keunggulan yang cukup telak juga diraih Jokowi atas Prabowo pada segmen pemilih berdasarkan usia 25-34 tahun (61,5 persen berbanding 38,5 persen), pemilih usia 35-49 tahun (59,5 persen berbanding 40,5 persen), dan pemilih usia 50 tahun ke atas (58,5 persen berbanding 41,4 persen).
Dalam kategori asal pemilih, Jokowi unggul dalam hal dukungan dari masyarakat pedesaan. Gap elektabilitas terhadap Prabowo bahkan mencapai 27 persen, yakni 63,5 persen berbanding 36,5 persen.
Keunggulan Jokowi datang terutama dari 'kandang banteng', Jawa Tengah, dengan perolehan angka telak, 74,5 persen berbanding 25,5 persen; Jawa Timur dan Bali (73 persen berbanding 27 persen).
Meski masih unggul, jarak elektabilitas Jokowi dengan Prabowo menipis di daerah perkotaan, dengan angka 53 persen berbanding 47 persen. Dukungan terhadap Prabowo banyak diraih dari Jawa Barat dan Jakarta (Prabowo unggul 57 persen berbanding 45,5 persen atas Jokowi), termasuk Banten, serta provinsi-provinsi di bagian selatan Sumatera.
Diketahui, kubu pendukung pasangan Prabowo-Sandiaga Uno sejak lama menggunakan isu 'emak-emak' untuk mendulang suara. Misalnya, dalam bentuk kebutuhan rumah tangga yang makin tak terjangkau dan penggalangan massa kaum ibu.
Foto: CNN Indonesia/Timothy Loen |
Levine juga menyebut keunggulan Jokowi itu disumbang oleh faktor kinerja ekonomi pada periode pertamanya. Menurut dia, Indonesia sudah menjadi negara G20 dengan kinerja ekonomi terbaik kedua di bawah China. Buktinya, Indonesia memiliki pertumbuhan ekonomi rata-rata 5 persen pada 2014-2019.
"Kinerja ekonomi Indonesia yang kuat dalam lima tahun pemerintahan Jokowi dan kepercayaan diri yang luar biasa yang diungkapkan oleh masyarakat Indonesia selama lima tahun terakhir jelas mengindikasikan kesuksesan kepemimpinan politik Jokowi dalam menghadapi Pilpres 2019 pada April," tutur dia.
Margin of error disebut tergantung dari jumlah sampel dan persentase wawancaranya. Misalnya, sampel 1.000 dengan estimasi persentase 5 persen atau 95 persen adalah plus minus 1,3 persen.
Roy Morgan, dikutip dari situsnya, merupakan lembaga riset pasar yang sudah berpengalaman selama 75 tahun dan memiliki sertifikat AS/NZS ISO 9001 and AS ISO 20252.
Selain itu, survei Charta Politika Indonesia periode 22 Desember 2018 hingga 2 Januari 2019 menyebut bahwa elektabilitas Jokowi-Ma'ruf meraih suara 53,2 persen, sementara Prabowo-Sandiaga memperoleh 34,1 persen. Sementara, yang belum memutuskan atau tidak menjawab mencapai 12,7 persen.
[Gambas:Video CNN] (arh/gil)
Barisan Emak-emak Militan (BEM) menuntut Presiden Joko Widodo mundur dari jabatannya di kantor KPU, Senin (3/9). (
Foto: CNN Indonesia/Timothy Loen