Dialog Said Aqil dan Najwa soal Kelompok Radikal di Kubu 02

CNN Indonesia | Kamis, 21/03/2019 13:20 WIB
Dialog Said Aqil dan Najwa soal Kelompok Radikal di Kubu 02 Said Aqil menuai poliemik usai mengiyakan kelompok radikal banyak berada di kubu 02. (ANTARA FOTO/Zabur Karuru)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj dilaporkan oleh Koordinator Laporan Bela Islam (Korlabi) Damai Hari Lubis ke Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri, Senin (18/3).

Said diduga telah melakukan tindak pidana ujaran kebencian lewat pernyataannya di acara Catatan Najwa yang tayang di akun media sosial Youtube, Najwa Shihab pada Jumat (15/3) lalu.

Acara Catatan Najwa yang menghadirkan Said sebagai narasumber tersebut mengangkat tiga tema besar, yakni 'NU di Pusaran Politik', 'Said Aqil soal Kafir', dan 'Ramalan Gus Dur soal Ustaz Dadakan'.


Pernyataan Said yang diduga oleh Damai mengandung unsur ujaran kebencian ada dalam perbincangan yang mengangkat tema 'NU di Pusaran Politik'. Pernyataan itu diutarakan Said dalam dialog antara menit 11:24 hingga 15:10.
Dialog Said Aqil dan Najwa soal Kelompok Radikal di Kubu 02Said Aqil di acara harlah NU ke-93. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)


Awalnya, Najwa bertanya terkait keberadaan anggota PBNU yang tidak mendukung pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin.

Said kemudian menjawab bahwa dirinya hanya mengetahui satu anggota PBNU yang secara implisit tidak mendukung Jokowi-Ma'ruf, yakni KH Hasib Wahab. Namun, dia meyakini, hal tersebut tidak signifikan dan tidak berefek sama sekali di kalangan NU.

Setelah itu, Said menjelaskan bahwa NU berkomitmen untuk memperjuangkan Islam yang moderat. Menurutnya, NU pun senantiasa menyuarakan gerakan anti-radikalisme, anti-ekstremisme, dan anti-terorisme.

Said menyampaikan bahwa keberadaan pendukung radikalisme tersebut bisa dilihat saat ini berada di kelompok mana.

Menyikapi pernyataan Said itu, Najwa bertanya apakah kelompok yang diisi pendukung radikalisme sebagaimana dimaksud oleh Said tersebut merupakan barisan dari kubu capres dan cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Mendapat pertanyaan seperti itu, awalnya Said sempat melempar kembali ke Najwa untuk menjawab pertanyaannya sendiri. Namun, Said kemudian mengiyakan bahwa pendukung radikalisme banyak berada di barisan Prabowo-Sandi.

Setelah itu, perbincangan Najwa dan Said dalam tema NU di Pusaran Politik berlanjut ke pembahasan hasil Ijtimak Ulama yang memberikan dukungan ke Prabowo-Sandi hingga ke pembahasan terkait sosok yang dapat disebut sebagai ulama.

[Gambas:Youtube]

Berikut isi bincang-bincang antara Najwa dan Said yang mengangkat tema 'NU di Pusaran Politik' di acara Catatan Najwa yang diduga dipermasalahkan oleh Damai.

Najwa: Kalau kita lihat, misalnya di dalam pengurus PBNU sendiri ada yang menyatakan tidak sependapat dengan berbagai langkah yang dilakukan, termasuk secara implisit mendukung Jokowi-Ma'ruf?

Said: Cuma satu orang yang saya tahu, KH Hasib Wahab.

Najwa: Berarti tidak signifikan?

Said: Bahkan tidak ada efek sama sekali.

Najwa: Yakin?

Said: Yakin, untuk NU loh ya. Walhasil begini, NU punya komitmen bahwa Islam yang akan kita perjuangkan selamanya al Islam wassatiyah atau moderat, maka NU di mana pun akan bersuara anti-radikalisme, anti-ekstremisme, apalagi sampai terorisme. Sekarang berada di mana itu kelompok radikalnya? Nah bisa kelihatan kan.

Najwa: Anda mau mengatakan itu berada di barisan kubu 02?

Said: Kira-kira setuju enggak Mba Najwa?

Najwa: Saya bertanya kepada Ketua Umum PBNU.

Said: Mba Najwa setuju enggak?

Najwa: Tetapi apakah memang arahnya ke sana Pak Kiai melihat?

Said: Ya, ya, ya, ya

Najwa: Banyakan di kelompok 02?

Said: Iya, ya

Najwa: Karena, misalnya kita ingat ketika memutuskan untuk menggandeng cawapres, Prabowo Subianto ditasbihkan yang namanya Ijtimak Ulama. Kemudian, ada sejumlah kiai yang merasa memiliki pengaruh dan pengikut yang banyak dan itu kemudian seolah-olah mendukung kiai tersebut berarti pendukungnya Prabowo-Sandi?

Said: Ini kalau dijawab secara rinci panjang, tapi kalau ringkas begini. Islam tawassuth atau Islam ahlussunnah wal jamaah Islam yang menggabungkan antara teks Alquran, hadits, dan akal. Akal ada dua, akal kolektif namanya ijmak konsensus akal sporadis namanya kias analogi.

Said: Ini yang menguasai hal ini mayoritas ulama pesantren di NU. Silakan anda bicara dengan ulama yang non NU, saya kira kurang fasih membicarakan ini, tapi kalau bicara dengan kiai-kiai di pesantren NU akan fasih berbicara Alquran itu ada berapa macam ayatnya.


Najwa: Dan itu semua keahlian kiai-kiai NU?

Said: Kalau sudah ahli begini namanya ulama, kalau enggak bukan ulama

Najwa: Jadi bagaimana menyebut mereka yang merasa ulama padahal tidak punya kemampuan itu?

Said: Ya enggak tahu saya, tapi yang jelas kalau ulama harus mampu begini.
[Gambas:Video CNN]

(mts)