IPW Minta Vanessa Angel Dijadikan Whistleblower

CNN Indonesia | Jumat, 22/03/2019 14:47 WIB
IPW Minta Vanessa Angel Dijadikan <i>Whistleblower</i> Vanessa Angel kini ditahan di Polda Jatim dalam kasus penyebaran konten pornografi. (CNN Indonesia/Farid Miftah Rahman)
Jakarta, CNN Indonesia -- Indonesia Police Watch (IPW) meminta Polda Jawa Timur menjadikan Venessa Angel sebagai whistleblower dalam kasus prostitusi online yang melibatkan artis.

Ketua Presidium IPW Neta S Pane menyebut pengakuan Vanessa bisa dipakai untuk membongkar jaringan pelacuran online yang diduga melibatkan banyak pihak, termasuk pengusaha, pejabat dan aparat keamanan.

"Jika tidak segera dilindungi, IPW khawatir Vannesa akan diteror, dikriminalisasi, dan bukan mustahil "dihabisi", mengingat sekarang saja Vannesa sudah tiga kali dilarikan ke rumah sakit," kata Neta dalam keterangan tertulisnya, Jumat (22/3).


Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) dan Komisi Nasional Perempuan juga diminta Neta untuk ikut melindungi Vanessa.

"IPW mendapat informasi selama di tahanan Polda Jatim, Vannesa kerap diteror oknum tertentu hingga dia tertekan dan berniat bunuh diri," kata Neta.

Neta menduga jaringan prostitusi online ini melibatkan banyak tokoh. Ia mengklaim ada penyanyi terkenal bertarif Rp300 juta dalam jaringan ini.

Sebelumnya, kata Neta, Polda Jatim menyatakan akan mengumumkan dan memaparkan mereka yang diduga terlibat prostitusi online. Namun belakangaan hal tersebut dibatalkan.
Vanessa Angel. (ANTARA FOTO/Didik Suhartono)

Karena itu IPW mempertanyakan mengapa hanya Vanessa yang ditetapkan jadi tersangka dan cenderung melindungi yang lain.

"Apakah karena Vannesa tahu banyak, tentang siapa saja oknum pejabat dan oknum kepolisian yang jadi konsumen dalam prostitusi online ini?" kata Neta.

IPW, kata Neta menyesalkan dalam kasus prostitusi online ini Polda Jatim lebih cenderung memunculkan sensasi untuk menciptakan pencitraan, ketimbang mengusutnya secara tuntas atau menyelesaikan akar masalah kasus ini.

Bahkan dalam kasus ini, Vanessa dijerat dengan pasal 27 ayat 1 Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik dengan ancaman 6 tahun penjara. Sementara dua muncikari dalam kasus ini yang diduga turut menyebarkan foto Vanessa menurut Neta tidak dijerat UU ITE.

"Sejak awal Polda Jatim sudah memperlakukan Vannesa sedemikian rupa, padahal posisinya saat itu baru sebagai saksi, sementara lelaki konsumennya dan puluhan artis lain yang sempat ditunjukkan Polda Jatim fotonya di dalam jumpa pers, kini disembunyikan dengan rapi," katanya
[Gambas:Video CNN][Gambas:Video CNN] (mts/sur)