Peretasan Medsos Lawan Politik Ibarat Fenomena Amerika Latin

CNN Indonesia | Kamis, 04/04/2019 08:38 WIB
Peretasan Medsos Lawan Politik Ibarat Fenomena Amerika Latin lustrasi peretas komputer. (REUTERS/Kacper Pempel)
Jakarta, CNN Indonesia -- Peneliti Lembaga Riset Communication and Information System Security Research Center (Cissrec), Ibnu Dwi Cahyo mencium kuat dugaan peretasan akun Twitter maupun Whatsapp yang marak belakangan ini bermuatan politis. Peretasan akun twitter politikus Ferdinand Hutahaean, misalnya, bukan bermotif pamer skill, melainkan bertujuan untuk menjegal secara politik.

Ibnu menyebut peretasan bermotif politik bukan kali pertama terjadi di Indonesia. Ibnu menyebut kondisi seperti ini terjadi Amerika Latin beberapa waktu lalu. Manipulasi media sosial hingga aksi peretasan akun-akun pejabat politik, kata dia, dimainkan oleh sindikat besar pelaku peretasan lintas negara.

"Andres Sepulveda. Memainkan politik peretasan untuk memanipulasi sejumlah pemilu di Amerika Latin. Ia berkiblat dengan konsultan politik di AS, ditangkap di Kolombia," kata Ibnu saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (4/4).


Sejak Pemilu 2016, AS diketahui telah berjuang untuk campur tangan terhadap sejumlah pemilu di Amerika Latin melalui manipulasi media sosial. peretas Kolombia Andrss Sepulveda menjadi aktor intelektual.

Bloomberg pernah menurunkan artikel investigasinya berjudul 'How to Hack an Election'. Andres Sepulveda mengaku bekerja dengan tim yang terdiri dari 7 hingga 15 peretas yang memanipulasi media sosial dan mencurangi pemilihan di seluruh Amerika Latin selama hampir satu dekade.


Sejumlah negara yang pernah merasakan manipulasi media sosialnya mulai dari Nikaragua, Panama, Honduras, El Salvador, Meksiko, Kosta Rika, Guatemala, dan Venezuela. Sepulveda kini menjalani vonis 10 tahun penjara dalam tuduhan spionase di pemilu Kolombia.

Terkait dengan aksi peretasan yang terjadi pada sejumlah politikus Indonesia, kata Ibnu, Polri mestinya bisa memperkuat pertahanan siber melalui direktorat sibernya. Polri dan Kemenkominfo, kata dia, punya wewenang untuk berkomunikasi dengan pihak Twitter, misalnya, untuk menggali jejak digital sejumlah aksi peretasan.

"Polri mestinya sudah memiliki SDM yang kuat untuk itu," kata dia.


Namun demikian, Ibnu menyebut keberhasilan melakukan pelacakan pelaku peretasan bersifat relatif, bergantung dari kecakapan skill si pelaku. Sebab itu, para politikus Indonesia sudah semestinya bisa lebih dulu membentengi aku media sosialnya secermat mungkin.

"Bisa aktifkan tools authentification. Mengaktifkan peringatan jika ada device lain yang membuka akun media sosial kita," tegasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, sejumlah peristiwa peretasan terjadi menimpa sejumlah politikus Indonesia.

akun Twitter politkus Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean mengunggah konten pornografi sekaligus menyerang Partai Gerindra melalui wakil ketua DPP Arief Poyuono. Akun itu menyebut Partai Gerindra mempunyai tujuan menghancurkan Indonesia. Konten-konten bermuatan asusila itu turut diunggah diduga peretas.

Peneliti: Peretasan soal Pemilu Juga Marak di Amerika LatinFerdinand Hutahaean. (CNN Indonesia/Bimo Wiwoho)

"Partai @gerindra, Arief Poyuono @bumnbersatu pny agenda hancurkan Indonesia. Prtemuan Arief dgn keduanya di Hotel Dharmawangsa, Jakarta pd 21 Maret 2019. Mrka niat bkin rusuh di Indonesia. Barbara Kappel antek Uni Eropa penghancur sawit Indonesia," tulis @Ferdinand_Haean.



Akun @Ferdinand_Haean juga menyerang Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Sugiono. Akun itu mengunggah foto Sugiono sedang bersama seorang perempuan. Cuitan itu berbalas. Akun Twitter @bumnbersatu yang mengklaim sebagai Arief Poyuono juga menyerang Ferdinand dengan konten asusila.

Saat dikonfirmasi, Ferdinand mengakui akun Twitter beserta emailnya dibajak seseorang yang ia sebut dengan sosok 'penjahat'. "Iya betul dibajak. Sejak kamis lalu," kata Ferdinand. Ferdinand mencium ada kaitan pembajakan akun Twitternya terkait politik. Terkait hal itu, Ferdinand sudah melaporkan peretasan kepada Bareskrim Polri.


Sehari berselang, Ketua Divisi Komunikasi Publik Partai Demokrat Imelda Sari juga mengaku menjadi korban peretasan aplikasi pesan singkat WhatsApp. 'Curhat' itu disampaikan melalui akun Twitter pribadinya, Rabu (3/4) pagi. Hal itu juga diungkap Ferdinand Hutahaean yang menyebut kini Imelda juga sudah melaporkan peretasan nomornya ke Bareskrim.

Ferdinand mengatakan dirinya menyadari nomor WhatsApp Imelda telah digunakan orang lain sekitar pukul 02.00, Rabu (3/4) dini hari. Pada pukul tersebut, kata Ferdinand, nomor Whatsaap Imelda tersebut mengirimkan pesan pribadi kepada miliknya.

Peneliti: Peretasan soal Pemilu Juga Marak di Amerika LatinImelda Sari. (Detikcom/Tsarina Maharani)

Di dalam pesan singkat itu, Imelda memanggil Ferdinand dengan sebutan 'mas'. Ferdinand merasa bingung, sebab selama ini Imelda selalu memanggilnya dengan sebutan 'abang'.

Kebingungan Ferdinand, kian menjadi-jadi setelah nomor WhatsApp Imelda mengirimkan konten yang menyerang dirinya. Sebut saja, foto-foto tidak senonoh yang disunting dengan melibatkan dirinya, hingga tangkapan layar (screenshot) ihwal video call palsu. (ain/gil)