Gunung Agung Kembali Meletus, Warga Mulai Dibagikan Masker

Antara, CNN Indonesia | Kamis, 04/04/2019 09:39 WIB
Gunung Agung Kembali Meletus, Warga Mulai Dibagikan Masker Gunung Agung di Bali. (AFP PHOTO / SONNY TUMBELAKA)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gunung Agung, Bali kembali meletus pada Kamis (4/4) pukul 01:31 Wita. Letusan mengiringi sebaran kolom abu dengan ketinggian sekitar 2.000 meter di atas puncaknya (5.142 meter di atas permukaan laut). Sejumlah warga di beberapa desa sekitar Gunung Agung mulai dibagikan masker.

"Kolom abu dengan intensitas tebal condong ke arah barat. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 25 mm dan durasi sekitar 3 menit 37 detik," ujar Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali, Made Rentin, Kamis (4/4) dikutip Antara.

Kejadian erupsi gunung tertinggi di Bali yang berada di Kabupaten Karangasem itu terdengar gemuruhnya di Pos Pemantauan Gunungapi di Rendang, Karangasem. Selain itu, Rentin menyebutkan, dari laporan petugas BPBD, di seputaran Pura Kiduling Kreteg terpapar hujan abu tipis.


Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menyebut sejumlah warga di beberapa desa telah dibagikan masker, menyusul hujan abu tipis akibat letusan. Pembagian masker terpantau di Desa Besakih, Pura Gae, Temukus, Pempatan.




BPBD Kabupaten Karangasem juga diketahui masih melakukan pemantauan di seputaran Pura Besakih. Saat ini Gunung Agung berada pada Status Level III (Siaga) yang merekomendasikan agar masyarakat di sekitar Gunung Agung beserta para pengunjung (wisatawan dan pendaki) tidak berada atau melakukan aktivitas apapun di zona perkiraan bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 kilometer dari Kawah Puncak Gunung Agung.

Zona perkiraan bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan Gunung Agung yang terbaru, katanya.

Rekomendasi berikutnya, masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan.

(ain)