Jokowi: Pesta Demokrasi Enggak Boleh Ada yang Marah-marah

CNN Indonesia | Minggu, 07/04/2019 19:09 WIB
Jokowi: Pesta Demokrasi Enggak Boleh Ada yang Marah-marah Pasangan calon presiden dan wakil presiden 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin menghadiri kampanye dalam parade karnaval Pemilu 2019, di Kota Tangerang, Banten. Jokowi bersama Ma'ruf mengikuti parade dengam menaiki kereta kencana yang dimulai dari Alun-alun Ahmad Yani, Minggu (7/4) sore. (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo atau Jokowi meminta semua masyarakat untuk menyambut Pilpres 2019 sebagai pesta demokrasi yang menggembirakan.

Jokowi meminta tak ada pihak yang malah marah-marah dan menciptakan ketakutan dalam Pilpres 2019.

"Jangan sampai dengan adanya pesta demokrasi diciptakan ketakutan-ketakutan. Jangan sampai ada di pesta demokrasi marah-marah, tidak boleh, betul?" kata Jokowi saat berpidato dalam kampanye akbar di Kota Tangerang, Banten, Minggu (7/4).


Jokowi menyebut kampanye akbar ala karnaval yang digelar itu merupakan bentuk pesta demokrasi yang sesungguhnya. Karnaval dalam arti memberikan kegembiraan bagi semua.


Mantan Wali Kota Solo itu menyampaikan Pilpres 2019 tidak boleh membuat perpecahan antara saudara, kerabat, dan tetangga.

"Siapa yang setuju jaga persatuan tunjuk jari. Jangan sampai gara-gara pilpres kita enggak jadi rukun, enggak bersaudara lagi, jadi hilang, enggak boleh," tuturnya.

Lalu Jokowi kembali memperkenalkan tiga kartu baru andalannya, yakni Kartu Indonesia Pintar Kuliah, Kartu Prakerja, dan Kartu Sembako Murah.

Dia berpesan untuk masyarakat Indonesia datang ke TPS pada 17 April 2019. Jokowi meminta warga untuk memilih calon presiden yang sudah berpengalaman.


"Tapi kalau pilih pemimpin itu dilihat, dilihat memiliki pengalaman atau belum, dilihat track record baik atau engga baik, rekam jejak, rekam jejak tuh harus dilihat," ujar mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut.

Pesan Jokowi tentang oknum pembawa ketakutan di Pilpres 2019 mengingatkan kembali tentang diksi politik genderuwo yang sempat disampaikan petahana beberapa waktu lalu. Saat itu Jokowi kembali membuat retorika ofensif saat mengunjungi Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, November 2018.

Jokowi memakai istilah politik genderuwo sebagai gaya politik yang hanya menakut-nakuti masyarakat.

"Cara-cara seperti ini adalah cara-cara politik yang tidak beretika. Masa masyarakatnya sendiri dibuat ketakutan? Enggak benar kan? itu sering saya sampaikan itu namanya 'politik genderuwo', nakut-nakuti," kata Jokowi kala itu.


(dhf/ain)