JK: Siapa pun yang Menang Pilpres, Ekonomi Stabil

CNN Indonesia | Selasa, 16/04/2019 18:18 WIB
JK: Siapa pun yang Menang Pilpres, Ekonomi Stabil Wapres Jusuf Kalla menyatakan kondisi ekonomi di Indonesia akan tetap stabil terlepas dari Jokowi ataupun Prabowo yang terpilih di Pilpres 2019. (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan kondisi ekonomi di Indonesia akan tetap stabil terlepas dari siapa pun calon presiden dan wakil presiden yang terpilih pada Pilpres 2019.

"Yakinlah siapa pun yang menang akan terjadi stabilitas ekonomi yang baik," ujar JK di kantor wakil presiden, Jakarta, Selasa (16/4).

JK juga memastikan pelaksanaan pemilu pada 17 April besok akan berjalan aman dan lancar. Kalaupun ada pihak yang tak setuju dengan hasil pemilu, kata JK, maka bisa menempuh mekanisme yang telah diatur dalam undang-undang.

"Sebelum pemilu kan sudah ada upacara pemilu damai, jadi yakinlah bahwa masing-masing akan menerima. Nanti kalau ada yang protes, itu sudah ada aturannya juga," katanya.


"Jadi tidak perlu dikhawatirkan, karena itu sudah ada rule of the game dari pemilu," imbuh JK.

JK sendiri rencananya bakal mencoblos di Tempat Pemungutan Suara 04 dekat rumahnya, di Jalan Brawijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

JK bakal mencoblos bersama istrinya, Mufidah Jusuf Kalla.
JK: Siapa pun yang Menang Pilpres, Ekonomi StabilJokowi dan Prabowo bertarung di Pilpres 2019. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Jamin Pemilu Lancar

JK meyakini pelaksanaan pemilu pada 17 April besok tak akan sesulit di luar negeri. Pelaksanaan pemilu di luar negeri pada 8-14 April lalu diketahui mengalami sejumlah masalah hingga menimbulkan membeludaknya pemilih.

"Ya kalau dalam negeri mungkin lebih mudah dibanding luar negeri. Kalau dalam negeri yang pindah juga sudah ada daftarnya. Kalau luar negeri kan banyak orang yang tidak mendaftar," ujar JK.

Selain itu, minimnya jumlah TPS di luar negeri juga menjadi penyebab pemilu bermasalah. Dibandingkan dengan di dalam negeri, kata JK, jumlah TPS bisa mencapai 800 ribu.

"Satu TPS maksimum 300 (pemilih). Jadi walau cara pemilihannya rumit, satu orang bisa 12-15 menit (mencoblos)," katanya.

Untuk mengantisipasi membeludaknya antrean mencoblos, JK mengimbau agar para pemilih datang lebih awal. "Jadi dianjurkan lebih cepat. Supaya tidak terjadi seperti masalah di luar negeri karena kurang TPS, banyak lagi polisi yang datang, paspor jadi banyak yang tidak terencana," ucap JK.

Pemungutan suara di luar negeri diketahui dilaksanakan lebih awal yakni pada 8 hingga 14 April 2019. Meski demikian proses penghitungan suara tetap dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan di Indonesia yakni pada 17 April mendatang.

Total terdapat 2.058.191 pemilih luar negeri yang akan menggunakan suaranya di Pemilu 2019.
[Gambas:Video CNN] (psp/gil)