Edy Rahmayadi Minta Wartawan Tak Ganggu Pemilu

CNN Indonesia | Rabu, 17/04/2019 15:39 WIB
Edy Rahmayadi Minta Wartawan Tak Ganggu Pemilu Gubernur Sumut Edy Rahmayadi meminta wartawan tak ganggu pemilu. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Medan, CNN Indonesia -- Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi menyebut Pemilu 2019 akan berlangsung aman bila tidak ada yang mengganggu, termasuk kalangan jurnalis.

Sementara, mantan kompetitornya di Pilkada Sumut 2018, Djarot Saiful Hidayat, mengaku agak kerepotan dengan surat suara yang terbilang lebar.

Edy Rahmayadi mencoblos di Pemungutan Suara (TPS) 46 di Jalan Karya Bakti Lingkungan VII, Kelurahan Pangkalan Masyhur, Kecamatan Medan Johor Medan.


"Pemilu berlangsung aman bila tidak ada yang mengganggu. Termasuk wartawan jangan ganggu-ganggu," selorohnya, ditemui di lokasi pencoblosan, Rabu (17/4).

Edy terlihat didampingi sang istri Nawal Lubis beserta ketiga anaknya kompak mengenakan pakaian berwarna putih.

Pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah.Pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah. (CNN Indonesia/Safir Makki)
"Saya sudah yang kedua kali melakukan pemilihan di Medan. Pertama itu saya memilih diri saya sendiri (saat pemilihan gubernur dan wakil gubernur sumut beberapa waktu lalu)," kata Edy.

Sementara, wakilnya, Musa Rajekshah alias Ijeck, mengaku heran anaknya Ia mengaku heran karena anaknya mendapat dua undangan memilih (formulir C6) dari dua TPS berbeda, yakni dari TPS 06 dan di TPS 13.

Ijeck pun sempat menanyakan kepada petugas KPPS terkait undangan ganda yang diterima anaknya tersebut.

"Anak saya dapat dua undangan memilih di TPS berbeda. Jadi saya tanyakan ke petugas. Petugas bilang mungkin salah data. Saya harap ini bisa diperbaiki ke depannya," kata Ijeck.

Dia saat itu datang bersama istri Sri Ayu Mihari dan anaknya mencoblos di TPS 06 Komplek Cemara Asri Medan, Rabu (17/4).

Terpisah, Djarot Saiful Hidayat menyalurkan hak suaranya di TPS 10, Jalan Diponegoro, Kelurahan Madras, Kota Medan Sumatera Utara, Rabu (17/4/2019). Pria yang maju dalam bursa pemilihan calon legislatif DPR RI Dapil Sumut 3 dari PDIP ini datang bersama istri dan anaknya.

Eks Gubernur DKI Djarot Saiful Hidayat mengeluhkan lebar surat suara. Eks Gubernur DKI Djarot Saiful Hidayat mengeluhkan lebar surat suara. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Usai mencoblos, mantan calon Gubernur Sumatera Utara ini tampak semringah. Namun, ia mengomentari kertas surat suara yang menurutnya terlampau lebar. Hal itu menambah waktu pencoblosan.

"Kertas suara lebar banget, bukanya menutupnya butuh waktu. Kalau kita sih seperti kita ini membutuhkan waktu. Saya yakin kalau untuk penghitungan semua jam 1 masih belum kelar karena lama," ujarnya.

Menurut Djarot, ukuran kertas suara ini akibat partai politik yang banyak. Untuk menyederhanakan kertas surat suara, kata dia, adalah dengan cara penyederhanaan jumlah parpol.

"Salah satu caranya penyederhanaan partai politik berdasarkan seleksi alam. Ini terlampau banyak parpol. Jadi seleksinya di Pemilu. Mereka (parpol) yang tidak lolos parlemen treshold ya sudah selesai, mereka bisa bergabung ke partai yang lolos," ungkapnya.

Tak hanya itu, bilik untuk mencoblos juga terlalu kecil tak sebanding dengan ukuran kertas surat suara yang terlampau lebar. Apalagi jarak antara bilik satu dengan lainnya terlampau rapat.

"Biliknya kecil ya tidak sebanding dengan kertasnya. Apalagi jarak antara bilik satu dengan bilik lainnya terlalu dekat," ungkapnya.

[Gambas:Video CNN] (fnr/arh)