Kemenkes Akan Autopsi Verbal Usut Kematian Petugas KPPS

CNN Indonesia | Selasa, 14/05/2019 14:04 WIB
Kemenkes Akan Autopsi Verbal Usut Kematian Petugas KPPS Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Moeloek menjelaskan soal penyebab kematian ratusan petugas KPPS dalam Pemilu 2019, di Kantor Staf Kepresidenan, Jakarta, Selasa (14/5). (CNNIndonesia/Feri Agus Setyawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Kesehatan Nila Moeloek menyebut pemerintah bakal melakukan autopsi verbal kepada petugas Kelompok Penyelenggaran Pemungutan Suara (KPPS) yang meninggal semasa bertugas di Pemilu 2019. Autopsi verbal dilakukan bersama tim independen dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

"Autopsi verbal, bukan autopsi forensik. Artinya ini dilakukan, penyebab kematian ditanyakan kepada keluarga dan orang-orang sekitar di mana kami dapatkan," kata Nila usai rapat bersama di Kantor Staf Kepresidenan, Jakarta, Selasa (14/5).

Nila menggarisbawahi autopsi verbal tersebut dilakukan terhadap petugas KPPS yang meninggal di luar rumah sakit. Nila menyatakan autopsi verbal merupakan salah satu hal yang dilakukan untuk mengetahui penyebab kematian petugas KPPS usai bertugas pada 17 April.


Menurut Nila, data tersebut nanti dikumpulkan pihaknya bersama tim dari FK UI dan AIPKI. "Autopsi verbal diagnosisnya 80 persen tepat," ujarnya.


Nila mengatakan dari data Komisi Pemilihan Umum (KPU) jumlah petugas KPPS yang meninggal sebanyak 485 orang. Sementara petugas KPPS yang menderita sakit usai menjalankan tugasnya sebanyak 10.997 orang.

Ia pun mengaku sudah meminta jajaran dinas kesehatan melakukan audit medik. Menurut dia, audit medik dilakukan terhadap petugas KPPS yang sempat dirawat, lalu meninggal di rumah sakit.

"Kematian yang terjadi di rumah sakit sebesar 39 persen ini kami melakukan audit medik dan sudah terkumpul data dari 25 provinsi," ujarnya.

Lebih lanjut, Nila menyebut kematian petugas KPPS terbanyak terjadi di Jawa Barat, kemudian diikuti Jawa Timur dan Jawa Tengah. Sementara petugas KPPS yang jatuh sakit terbanyak di wilayah DKI Jakarta dan Banten.


Melihat dari sisi umur, kata Nila, sebanyak 54 persen petugas KPPS yang meninggal berusia di atas 50 tahun, bahkan mencapai 70 tahun. "Jadi artinya memang yang meninggal kebanyakan yang usia tua, walaupun ada yang usia muda," tuturnya.

Diagnosis penyakit
Nila melanjutkan dari data audit medik dinas kesehatan sejumlah provinsi ditemukan penyakit yang menjadi penyebab kematian ratusan petugas KPPS. Menurut Nila, sebanyak 51 persen petugas KPPS meninggal disebabkan penyakit cardiovascular atau jantung, termasuk di dalamnya stroke dan infrag, ditambah hipertensi.

"Hipertensi yang emergency bisa menyebabkan kematian, kami masukkan dalam cardiovascular," ujarnya.

Selain itu, kata Nila kematian petugas KPPS juga disebabkan gagal pernapasan yang bisa karena asma. Kemudian sekitar 9 persen karena kecelakaan. Selain itu, ada juga karena gagal ginjal, diabetes, dan liver.

"Jadi dalam hal ini data belum sampai total. Kami tetap mendorong kepala dinas kesehatan mengumpulkan data tersebut. Ini yang disebut audit medik," ujarnya.

(fra/ain)