Ratusan KPPS Gugur, MER-C Desak KPU Setop Penghitungan Suara

CNN Indonesia | Rabu, 15/05/2019 19:10 WIB
Ratusan KPPS Gugur, MER-C Desak KPU Setop Penghitungan Suara Pembina Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Joserizal Jurnalis. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pembina Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Joserizal Jurnalis mendesak Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk menghentikan pemungutan suara Pemilu 2019. Hal itu berkaca pada ratusan petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang meninggal.

Sejauh ini KPU mencatat jumlah petugas KPPS yang meninggal dunia tembus 456 orang dan 4.310 orang sakit.

"Kalau perlu diberhentikan dulu penghitungan suara. Diberhentikan dulu. Fokus penanganan pencegahan ini dan semua pembiayaan dikerahkan untuk hal tersebut," tutur Joserizal di Kantor MER-C, Jalan Kramat Lontar, Jakarta Pusat, Rabu (15/5/2019).


Ia menilai meninggalnya ratusan petugas KPPS karena kelelahan dalam proses kerja sebagai penyelenggara Pemilu. Atas dasar itu, jika penghentian proses penghitungan suara dilakukan maka akan mencegah timbulnya korban baru.

Joserizal juga menilai KPU telah melakukan pembiaran yang berujung pada meninggalnya petugas KPPS. Selain terus meningkatnya jumlah korban, KPU juga tidak menyediakan asuransi untuk petugas KPPS.

"Proses rekrutmen yang tidak proper. Surat keterangan dari puskesmas. Kita tahu puskesmas kemungkinan besar tidak dilakukan pemeriksaan, rekam jantung<" ujarnya.

"Kemudian keempat tidak jelas pembiayaannya. Sebagian besar keluarga yang menanggung. Harusnya ini menjadi tanggung jawab KPU dan pemerintah. Duit harus segera turun," kata Joserizal.

Lebih lanjut, Joserizal mengatakan pihaknya membentuk tim mitigasi untuk menelusuri penyebab kematian ratusan petugas KPPS. Pasalnya, audiensi yang dilakukan dengan KPU dan Bawaslu pun tidak membuahkan hasil baik.

"Tidak ada bencana, tidak ada penyakit, meninggal dalam periode cukup singkat, dalam jumlah banyak. Tapi kita tidak boleh ambil kesimpulan grasa-grusu. Teori boleh saja, hipotesis, tetap pembuktiannya cause of death," ucapnya.

Dikutip dari situs resmi mer-c.org, MER-C merupakan organiasai sosial kemanusiaan yang bergerak dalam bidang kegawatdaruratan medis. Organisasi ini didirikan sekumpulan mahasiswa Universitas Indonesia saat membantu korban konflik di Maluku pada Agustus 1999.

MER-C bertujuan memberikan pelayanan medis untuk korban perang, kekerasan akibat konflik, kerusuhan, kejadian luar biasa, dan bencana alam di dalam maupun di luar negeri.

MER-C yang pernah bersilaturahmi ke DPP PKS pada Desember 2017 lalu ini sudah mengirimkan lebih dari 124 misi kemanusiaan ke berbagai daerah di tanah air.

Selain itu, MER-C juga pernah mengirim misi kemanusiaan ke luar negeri. Di antaranya Afghanistan, Irak, Iran, Thailand, Pakistan, Libanon, Sudan, Somalia, hingga Palestina.

[Gambas:Video CNN] (sah/osc)