Romantika Orba Ala Berkarya dan Perlawanan Kaum Kota

CNN Indonesia | Jumat, 24/05/2019 10:31 WIB
Romantika Orba Ala Berkarya dan Perlawanan Kaum Kota Jajaran kepengurusan Partai Berkarya. (Dok. Partai Berkarya)
Jakarta, CNN Indonesia -- Partai Berkarya dengan isu-isu ala Orde Baru tak mampu membuatnya melenggang ke Senayan. Meski bisa memicu romantika penduduk desa, kekritisan kaum perkotaan jadi salah satu pengganjal.

Partai yang dipimpin oleh Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto ini sebelumnya kerap menggadang-gadang kondisi kehidupan yang diklaim terjadi pada masa Orde Baru. Misalnya, sembako murah, sandang dan papan terjangkau, swasembada pangan, lapangan kerja mudah.

Selain itu, jargon-jargon Soeharto pun didengungkan, seperti 'piye kabare? penak jamanku tho?'.


Berkarya kemudian memberikan dukungan kepada paslon nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Menurut Sekretaris Jenderal Partai Berkarya Priyo Budi Santoso, paslon ini akan mengembalikan kondisi Indonesia seperti yang disebut di atas.

Dia pun menargetkan partainya bisa melenggang ke DPR dengan perolehan 78 kursi atau 13,75 persen suara nasional.

Nyatanya, berdasarkan rekapitulasi suara nasional Komisi Pemilihan Umum (KPU), Partai Berkarya hanya mendapatkan 2.929.495 suara (2,09 persen) dan tak masuk ke DPR.

Ketum Partai berkarya Tommy Soeharto.Ketum Partai berkarya Tommy Soeharto, yang merupakan mantan terpidana kasus pembunuhan hakim agung MA. (REUTERS/Beawiharta)
Hasil hitung cepat Litbang Kompas dengan data masuk 99,45 persen, Partai Berkarya hanya meraih 2,14 persen suara. Senada, quick count Indo Barometer (dengan data masuk 91,58 persen) menyebut bahwa 'partai cendana' ini cuma mendapat 2,12 persen suara.

Peneliti Politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wasisto Raharjo Jati menyatakan romantika pembangunan ala Orba tak berdampak banyak bagi masyarakat, khususnya di perkotaan. Konsep itu, kata Wasisto hanya menyentuh masyarakat pedesaan.

"[Perolehan suara] 2 persen itu juga karena mereka berhasil membangkitkan romantika Orde Baru yang isu sentralnya pangan. Ini cukup efektif kalangan pedesaan penduduk luar Jawa, tapi tidak untuk perkotaan," kata Wasisto kepada CNNIndonesia.com, Senin (20/5).

Wasisto menyatakan kaum perkotaan atau urban lebih kritis menanggapi pembangunan era Soeharto. Masyarakat perkotaan juga banyak terpengaruh dengan fakta-fakta yang banyak diungkap di media mengenai korupsi hingga peristiwa kerusuhan '98.

"Stigma negatif tumbuh sangat pesat di perkotaan di mana banyak kalangan kritis seperti akademisi, tokoh masyarakat, dan mantan aktivis mempropagandakan Orba adalah rezim koruptor," ujar Wasisto.

"Hal ini yang cukup menurunkan suara Partai Berkarya dalam kalangan perkotaan karena mereka bayangannya 98 berdarah dan sebagainya," lanjut dia.

Sementara, kata Wasis, kaum pedesaan sangat senang disuguhi dengan isu ketahanan pangan hingga transmigrasi yang lagi-lagi sempat berjaya di masanya.

Romantika Orba Ala Berkarya dan Perlawanan Kaum Kota [22 MAY]Foto: CNN Indonesia/Fajrian
Golkar Beda Jaket

Suara Berkarya semakin terjun bebas karena nilai-nilai dan kekhasan Partai Berkarya sendiri yang tidak sampai ke masyarakat. Wasis menilai Partai Berkarya bak Partai Golkar dengan beda jaket. Ketokohan yang diusung pun hanya satu, yakni Soeharto.

"Partai ini juga tiba-tiba muncul saat pemilu. Mereka juga tidak tampak oleh publik dan ini menyebabkan karakter jualan Orde Baru, nilai-nilai yang mau dijual enggak sampai ke publik," tegas dia.

Terpisah, Ketua DPP Partai Berkarya Badaruddin Andi Picunang mengamini ada informasi yang tidak sampai ke masyarakat mengenai partainya. Dia menyebut waktu yang singkat menjadi penyebab utama partainya tidak optimal dalam menyebarkan informasi.

"Mungkin karena waktu terlalu singkat sehingga masyarakat belum terlalu merata untuk mengetahu potensi program dari partai kita. Awal-awal memang kita prioritasikan kepada masyarakat pedesaan melalui program transmigrasi," dalihnya, kepada CNNIndonesia.com.

Badaruddin sendiri mengklaim kampanyenya di perkotaan masih relevan seperti di pedesaan. Namun, pihaknya tidak melakukan kampanye secara komprehensif di kota-kota besar yang mengakibatkan suara yang minim.

"Beberapa program yang memihak perkotaan sekarang banyak juga. Semua partai melakukan hal yang sama. Tapi kami hanya melakukan (pengenalan) hanya sekali dua kali sudah tapi tidak berkali-kali seperti teman-teman partai lainnya," jelas dia.

Romantika Orba Ala Berkarya dan Perlawanan Kaum Kota [22 MAY]Aktivis mengenakan topeng Soeharto saat aksi Kamisan di depan Istana, Jakarta Pusat, Kamis (16/1/2014), mendesak penyelesaian kasus pelanggaran HAM berat masa lalu, terutama kasus seputar peristiwa '65. (ANTARA FOTO/Fanny Octavianus)
Dari data internal Partai Berkarya, setidaknya ada 3 juta suara yang masuk. Namun, Badaruddin mengklaim setidaknya ada 20 persen suara yang hilang saat dalam perjalanan ke pusat. Hal itu terjadi karena ketiadaan saksi di sejumlah titik untuk mengawal surat suara.

"Kami di beberapa TPS tidak ada saksi sehingga ada beberapa suara yang hilang di tengah jalan menuju KPU RI," ujar dia.

Mulanya, Partai Berkarya membuat proyeksi suara setidak-tidaknya 1 kursi di satu dapil yang berjumlah 80 daerah pemilihan (dapil). Angka ini sama dengan sekitar 12 hingga 13 persen dari perolehan suara. Namun, suara itu stagnan di angka 4 persen pada perhitungan 50 persen suara yang masuk.

"Apapun kita evaluasi setelah lebaran kita akan rekonsiliasi pertemuan pengurus apakah itu dalam bentuk rapimnas atau munas, nanti kita serahkan ke munas kepengurusan," tutup dia.

[Gambas:Video CNN] (CTR/arh)