Menurut hasil rekapitulasi suara Komisi Pemilihan Umum (KPU), partai pimpinan Hary Tanoesoedibjo ini menduduki peringkat sepuluh dengan raihan 3.738.320 suara atau 2,67 persen. Sementara, ambang batas parlemen atau parliamentary treshold 4 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tidak ada korelasi dana kampanye iklan dengan voting behavior. Iklan hanya variable supporting bukan variabel utama," kata dia, kepada CNNIndonesia.com.
Pada Pilpres 2019, Perindo mendukung pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin. (CNN Indonesia/Christie Stefanie) |
Tokoh yang diunculkan pun biasanya sudah dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat dipilih oleh masyarakat. Bukan tokoh yang dibentuk dengan secepat kilat. Kemunculan ketokohan pada last minute, kata dia, akan membuat pengenalan masyarakat menjadi tidak optimal.
"Program dan ketokohan ini tidak boleh muncul tiba-tiba jelang kampanye pemilu. Harusnya itu sudah disosialisasikan di tengah masyarakat lima tahun sebelumnya. Acap kali kita melihat partai baru justru mereka relatif last minute," jelas Emrus.
Hal ini bisa dilihat dari perbandingan perolehan suara Gerindra dan dana kampanye yang dikeluarkan. Dikutip dari data yang sama, Gerindra hanya mengeluarkan dana sebesar Rp7,7i miliar untuk 200 kemunculan di televisi.
Namun, dengan ketokohan Ketua Umumnya, Prabowo Subianto, partai ini meraih suara pada Pileg 2019 sebanyak 17.594.839 suara (12,57 persen) dan meraih peringkat kedua.
Menurut Emrus, Gerindra adalah bukti pemilih yang memilih berdasarkan ketokohan. Berkaca dari kondisi ini, Emrus menyarankan agar partai mampu mengkombinasikan kampanye di sejumlah media, kampanye tatap muka langsung, kampanye di media arus utama, kampanye media sosial.
Perindo kerap menggunakan program sosial dan ekonomi untuk bersosialisasi, seperti peluncuran ambulans partai maupun gerobak UKM. (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar) |
Saat dikonfirmasi, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Perindo Ahmad Rofiq mengaku berbesar hati untuk menerima kenyataan tak lolos ke Senayan. Perindo juga akan melakukan evaluasi untuk persiapan Pemilu selanjutnya.
"Namun bila tidak sampai melampaui PT tentu Perindo berbesar hati untuk menerima realitas politik pada pemilu kali ini dan akan menjadikan modal politik berapapun besarnya untuk pemilu 2024," jelas dia.
"Perindo sangat menyadari bahwa selama 5 tahun belum cukup untuk membangun basis dukungan yang militan. Kami yakin dan percaya bila 5 tahun ke depan terus bergerak dan semakin intensif memperkuat basis dan menambah jaringan pendukung tentu akan membuat Perindo semakin optimal dan dapat menembus ambang batas yang telah ditentukan oleh undang-undang," tutup dia.
[Gambas:Video CNN]
Pada Pilpres 2019, Perindo mendukung pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin. (![Hasil Pahit Bakar Duit Perindo untuk Kampanye di Tel [22 MAY]](https://akcdn.detik.net.id/community/media/visual/2017/02/15/a27d1a4a-d514-48a7-82ef-8c8600df9802_169.jpg?w=620)