Polisi Masih Tunggu Hasil Autopsi Korban Aksi 22 Mei

CNN Indonesia | Jumat, 24/05/2019 13:16 WIB
Polisi Masih Tunggu Hasil Autopsi Korban Aksi 22 Mei Kabiropenmas Mabes Polri Dedi Prasetyo bantah korban tewas aksi 22 Mei karena peluru tajam. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Polisi Dedi Prasetyo mengatakan penyebab tewasnya massa aksi 22 Mei masih menunggu hasil autopsi dan penyelidikan yang dilakukan oleh tim investigasi Polri.

"Hasil autopsi sampai saat ini belum keluar, menunggu tim investigasi," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Jumat (24/5).

Sebelumnya Dedi menyebut jika satu korban tewas dalam aksi 22 Mei yang berujung kerusuhan teridentifikasi oleh peluru tajam. Namun dari hasil koordinasi dengan Pusdokkes, hasil autopsi masih dilakukan hingga saat ini. 


"Jadi belum dapat dipastikan apa penyebab kematian para korban karena hasil autopsi yang belum keluar," kata Dedi.


Dalam pengamanan aksi tersebut, Dedi memastikan TNI Polri tidak dibekali dengan senjata api maupun peluru tajam. Ia kemudian menduga pelakunya merupakan pihak-pihak yang sengaja merencanakan untuk kerusuhan tersebut. 

"Dapat diduga pelakunya pihak-pihak yang sengaja men-setting akan membuat rusuh," tuturnya. 

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyebut jika korban meninggal telah bertambah dari enam menjadi delapan orang karena kerusuhan yang merupakan ujung dari aksi 22 Mei tersebut.


Enam korban awal orang yang teridentifikasi ialah Farhan Syafero (31) asal Depok, M. Reyhan Fajari (16) asal Jakpus, Abdul Ajiz (27) asal Pandeglang, dan Bachtiar Alamsyah asal Batu ceper.

Kemudian Adam Nooryan (19) asal Tambora, Widianto Rizky Ramadan (17) asal Kemanggisan. Sementara itu, Anies mengatakan dua warga yang baru meninggal ialah Sandro (31) dan satu lagi belum diketahui identitasnya.

Sementara korban luka-luka paling banyak berada pada luka ringan sebanyak 462 orang, kemudian nontrauma 93 orang dan luka berat sebanyak 79 orang dan belum ada keterangan 96 orang. Kemudian yang paling banyak menjadi korban ialah pemuda.

[Gambas:Video CNN] (gst/DAL)