Kursi yang disediakan pengelola Stasiun Senen tampak dipenuhi oleh penumpang, Selasa (11/6). Sebagian dari mereka menunggu kereta datang, sebagian lainnya sekadar melepas kepergian sanak keluarga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Indawan (53), misalnya, warga Bogor ini mengaku baru akan mengunjungi sanak keluargnya di Solo. Ia mengajak serta seluruh keluarga dan saudaranya di Bogor sebanyak sepuluh orang ke Solo, Jawa Tengah. Pilihannya jatuh kepada angkutan kereta api lantaran lebih cepat dan nyaman.
"Hari Raya usaha saya banyak pelanggannya, ramai jualannya, jadi baru bisa mudik sekarang," tuturnya.
Lain cerita dengan Shinta (44), warga asal Palembang. Perjalanannya dengan kereta api kali ini bertujuan untuk mengantarkan anaknya bersekolah di Ponorogo, Jawa Timur.
Harga tiket pesawat yang melonjak membuat Shinta lebih memilih perjalanan darat dari Palembang ke Ponorogo.
Dari Palembang, ia beserta anak laki-lakinya naik bus ke Jakarta. Selanjutnya, ia melanjutkan perjalanan menggunakan kereta api ke Madiun, dan kembali meneruskan perjalanan darat menggunakan bis ke Ponorogo.
Para calon penumpang menunggu di bagian luar Stasiun Pasar Senen, Selasa (11/6). (CNN Indonesia/Ulfa Arieza) |
"Jauh sekali kan [bedanya], saya bisa bolak-balik kalau naik pesawat, makanya cari lewat darat. Kalau dihitung masih masuk di bawah Rp1 juta sudah sama makan, dibandingkan tiket pesawat," jelasnya.
Apalagi, kata dia, perjalanan darat kini lebih cepat dengan Tol Trans Sumatera. Ia mengaku berangkat dari Palembang menggunakan bus pada pukul 07.00 WIB, lalu telah sampai di Cilegon, Jawa Barat pada sore harinya pukul 17.00 WIB.
"Sudah cepat juga, Palembang-Lampung hanya empat jam melalui tol," paparnya.
Kantong Portir
Keramaian penumpang itu rupanya tidak meninggalkan kisah bahagia bagi portir alias pemberi jasa angkut barang yang bertugas. Mereka mengaku kenaikan jumlah penumpang tersebut tidak dibarengi dengan bertambahnya uang di kantong.
Mursidi (51) bercerita pendapatannya justru berkurang dibandingkan dengan periode lebaran tahun lalu.
Kini ia hanya bisa mengantongi uang tip dari penumpang sebesar Rp200 ribu-Rp250 ribu per hari secara kotor. Meski tidak hapal angkanya, ia mengaku tahun lalu jumlah pendapatannya melebihi angka tersebut.
"Penumpang tambah ramai, cuma pendapatannya tidak seberapa, lain dengan tahun kemarin. Sekarang yang minta angkut barang sepi," tuturnya.
Porter di Stasiun Pasar Senen mengeluhkan semakin sedikit penumpang yang membawa kardus. Para penumpang sekarang lebih memilih membawa koper beroda. (CNN Indonesia/Safir Makki) |
"Penumpang ditawarin pada enggak mau. Kalau dulu penumpang cari porter, sekarang porter cari penumpang. Jadi sepi padahal penumpang ramai," kisahnya.
Ia sendiri mengaku tetap bekerja selama lebaran ini dan memilih tidak pulang ke kampungnya di Kebumen, Jawa Tengah.
"Waktu Lebaran pas shift (piket) malam, sekarang shift siang," katanya.
"Paling pol (banyak) sehari bisa Rp150 ribu bersih, dipotong makan. Kalau hari biasa paling dapat Rp80 ribu-Rp100 ribu," katanya.
Berdasarkan data yang dihimpun dari Posko Masa Angkutan Lebaran 2019 Pasar Senen, pada periode Minggu (26/5) atau H-10 lebaran hingga Selasa (11/6) atau H+5 lebaran terdapat 424.363 penumpang yang berangkat mudik.
Sementara itu, penumpang yang datang ke Stasiun Pasar Senen pada periode Kamis (6/6) atau hari kedua Lebaran hingga Selasa (11/6) atau H+5 lebaran sebanyak 140.084 penumpang. Itu berarti, masih ada sebanyak 284.279 penumpang yang belum balik ke Jakarta.
Total penumpang selama masa angkutan Lebaran 2019, diprediksi mencapai sekitar 997.730 penumpang, meningkat 6-9 persen dari tahun sebelumnya sebanyak 915.540 penumpang.
[Gambas:Video CNN] (wis)
Para calon penumpang menunggu di bagian luar Stasiun Pasar Senen, Selasa (11/6). (CNN Indonesia/Ulfa Arieza)
Porter di Stasiun Pasar Senen mengeluhkan semakin sedikit penumpang yang membawa kardus. Para penumpang sekarang lebih memilih membawa koper beroda. (CNN Indonesia/Safir Makki)