Kisah Kantong Tipis Portir saat Pemudik Riuh di Stasiun Senen

Ulfa Arieza, CNN Indonesia | Rabu, 12/06/2019 07:20 WIB
Kisah Kantong Tipis Portir saat Pemudik Riuh di Stasiun Senen Ilustrasi portir. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sekitar sepekan setelah lebaran, hiruk pikuk pemudik Lebaran 2019 di Stasiun Pasar Senen berangsur mereda. Meski demikian, jumlah penumpang masih ramai, terutama, oleh mereka yang baru mudik pascalebaran.

Kursi yang disediakan pengelola Stasiun Senen tampak dipenuhi oleh penumpang, Selasa (11/6). Sebagian dari mereka menunggu kereta datang, sebagian lainnya sekadar melepas kepergian sanak keluarga.

Pengelola Stasiun Pasar Senen menyediakan 700 kursi tunggu penumpang dari yang sebelumnya 80 kursi. Sementara, kursi tunggu penumpang di area setelah pemeriksaan tiket tak bertambah dan masih berjumlah 92 kursi.


Calon penumpang yang baru mudik ini tak kalah dengan pemudik sebelum lebaran, mereka juga menenteng barang bawaan seperti kardus dan koper.

Indawan (53), misalnya, warga Bogor ini mengaku baru akan mengunjungi sanak keluargnya di Solo. Ia mengajak serta seluruh keluarga dan saudaranya di Bogor sebanyak sepuluh orang ke Solo, Jawa Tengah. Pilihannya jatuh kepada angkutan kereta api lantaran lebih cepat dan nyaman.

"Belum sempat [mudik] sebelumnya, kebetulan sekolah anak masih libur," katanya.

Cerita serupa disampaikan oleh Rifti (42). Ia baru akan mengunjungi keluarganya di Tegal usai Lebaran, karena tidak bisa meninggalkan usahanya di Jakarta saat Lebaran. Wanita ini pergi bersama dua orang anaknya menggunakan kereta Matarmaja.

"Hari Raya usaha saya banyak pelanggannya, ramai jualannya, jadi baru bisa mudik sekarang," tuturnya.

Lain cerita dengan Shinta (44), warga asal Palembang. Perjalanannya dengan kereta api kali ini bertujuan untuk mengantarkan anaknya bersekolah di Ponorogo, Jawa Timur.

Harga tiket pesawat yang melonjak membuat Shinta lebih memilih perjalanan darat dari Palembang ke Ponorogo.

Dari Palembang, ia beserta anak laki-lakinya naik bus ke Jakarta. Selanjutnya, ia melanjutkan perjalanan menggunakan kereta api ke Madiun, dan kembali meneruskan perjalanan darat menggunakan bis ke Ponorogo.

Riuh Mudik Stasiun Senen dan Kantong Porter yang MenipisPara calon penumpang menunggu di bagian luar Stasiun Pasar Senen, Selasa (11/6). (CNN Indonesia/Ulfa Arieza)
Ia menuturkan tiket pesawat Jakarta-Palembang bisa mencapai Rp1,3 juta per orang dari sebelumnya berkisar Rp600 ribu-Rp700 ribu. Lewat perjalanan darat, ia hanya menghabiskan dana sebesar Rp350 ribu untuk bus dan Rp140 ribu untuk tiket kereta api.

"Jauh sekali kan [bedanya], saya bisa bolak-balik kalau naik pesawat, makanya cari lewat darat. Kalau dihitung masih masuk di bawah Rp1 juta sudah sama makan, dibandingkan tiket pesawat," jelasnya.

Apalagi, kata dia, perjalanan darat kini lebih cepat dengan Tol Trans Sumatera. Ia mengaku berangkat dari Palembang menggunakan bus pada pukul 07.00 WIB, lalu telah sampai di Cilegon, Jawa Barat pada sore harinya pukul 17.00 WIB.

"Sudah cepat juga, Palembang-Lampung hanya empat jam melalui tol," paparnya.

Tak hanya area penumpang yang nampak mulai berkurang kepadatannya, area parkir Stasiun Pasar Senen juga mulai lengang dari kendaraan yang terparkir. Namun, masih tampak petugas keamanan baik dari PT Kereta Api Indonesia (Persero) sendiri maupun personel gabungan dari aparatur keamanan.

Kantong Portir

Keramaian penumpang itu rupanya tidak meninggalkan kisah bahagia bagi portir alias pemberi jasa angkut barang yang bertugas. Mereka mengaku kenaikan jumlah penumpang tersebut tidak dibarengi dengan bertambahnya uang di kantong.

Mursidi (51) bercerita pendapatannya justru berkurang dibandingkan dengan periode lebaran tahun lalu.

Kini ia hanya bisa mengantongi uang tip dari penumpang sebesar Rp200 ribu-Rp250 ribu per hari secara kotor. Meski tidak hapal angkanya, ia mengaku tahun lalu jumlah pendapatannya melebihi angka tersebut.

"Penumpang tambah ramai, cuma pendapatannya tidak seberapa, lain dengan tahun kemarin. Sekarang yang minta angkut barang sepi," tuturnya.

Lelaki yang berpengalaman menjadi portir selama 20 tahun ini menuturkan penumpang semakin jarang membawa kardus maupun tas jinjing.

Riuh Mudik Stasiun Senen dan Kantong Porter yang MenipisPorter di Stasiun Pasar Senen mengeluhkan semakin sedikit penumpang yang membawa kardus. Para penumpang sekarang lebih memilih membawa koper beroda. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Para penumpang sekarang lebih banyak menggunakan koper beroda yang lebih mudah dibawa ke kereta api dibandingkan kardus maupun tas jinjing. Imbasnya, penumpang jarang membutuhkan jasa para portir.

"Penumpang ditawarin pada enggak mau. Kalau dulu penumpang cari porter, sekarang porter cari penumpang. Jadi sepi padahal penumpang ramai," kisahnya.

Ia sendiri mengaku tetap bekerja selama lebaran ini dan memilih tidak pulang ke kampungnya di Kebumen, Jawa Tengah.

"Waktu Lebaran pas shift (piket) malam, sekarang shift siang," katanya.

Hal serupa dialami oleh Jamal (57). Meski tidak berkurang, ia mengaku pendapatannya pada lebaran kali ini cenderung tetap meski penumpang kereta api di Stasiun Senen tahun ini lebih ramai ketimbang tahun lalu.

"Paling pol (banyak) sehari bisa Rp150 ribu bersih, dipotong makan. Kalau hari biasa paling dapat Rp80 ribu-Rp100 ribu," katanya.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Posko Masa Angkutan Lebaran 2019 Pasar Senen, pada periode Minggu (26/5) atau H-10 lebaran hingga Selasa (11/6) atau H+5 lebaran terdapat 424.363 penumpang yang berangkat mudik.

Sementara itu, penumpang yang datang ke Stasiun Pasar Senen pada periode Kamis (6/6) atau hari kedua Lebaran hingga Selasa (11/6) atau H+5 lebaran sebanyak 140.084 penumpang. Itu berarti, masih ada sebanyak 284.279 penumpang yang belum balik ke Jakarta.

Total penumpang selama masa angkutan Lebaran 2019, diprediksi mencapai sekitar 997.730 penumpang, meningkat 6-9 persen dari tahun sebelumnya sebanyak 915.540 penumpang.

[Gambas:Video CNN] (wis/wis)