"Sampai hari ini kami mencatat ada sembilan korban meninggal dunia. Dan dari tindakan hukum tanggal 21 dan 22 Mei ini, ada 447 (orang) yang ditahan di Polda Metro Jaya, khususnya," kata Asep saat ditemui di Mabes Polri, Kebayoran Baru, Jakarta, Rabu (12/6).
Asep menjelaskan hingga kini penyelidikan atas penyebab kematian sembilan orang akibat kerusuhan itu masih dilakukan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Salah satu tugas penting dari tim investigasi gabungan ini adalah mencari penyebab dari kesembilan yang meninggal ini," kata dia.
"Ini penting sebagai titik awal penyelidikan kita. Di mana kejadiannya, seperti apa, dan saksi-saksinya. Karena ini meninggal dunia karena peluru tajam, maka kami harus mengetahui nanti bagaimana arah tembak, jarak tembak, karena itu olah TKP penting," tambah Asep.
Berkaca pada kondisi tersebut, menurut dia, pihaknya membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak untuk menyelidiki penyebab kematian para korban, termasuk dukungan dari masyarakat yang menjadi saksi mata atas peristiwa tersebut.
"Dari masyarakat bisa kasih keterangan-keterangan itu. Intinya tim investigasi gabungan ini sedang berusaha keras untuk menemukan bukti-bukti itu," kata dia.
Ormas tersebut akan dimintai keterangan terkait kepemilikan ambulans saat aksi 22 Mei lalu. Ambulans tersebut disebut memuat busur, panah, dan bambu runcing.
"Semua dalam penyelidikan, kelompok mana saja yang terlibat seperti tadi misalnya Garis dan saat ini masih dilakukan pengembangan. Bagaimana dia mempersiapkan sesuatunya itu sampai ke Jakarta," katanya. (rzr/agi)