Warga Lereng Merapi di Boyolali Kesulitan Air Bersih

CNN Indonesia | Kamis, 13/06/2019 04:53 WIB
Warga Lereng Merapi di Boyolali Kesulitan Air Bersih Ilustrasi warga mengantre untuk mendapatkan air bersih. (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah)
Jakarta, CNN Indonesia -- Warga lereng Gunung Merapi di Desa Sruni, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, sejak pertengahan Ramadan lalu hingga sekarang kesulitan mendapatkan air bersih akibat bencana kekeringan.

Seperti dilansir Antara, Camat Musuk, Dwi Sundarto, menyatakan berdasarkan hasil pemetaan menunjukkan 15 dari 20 desa di wilayahnya rawan mengalami bencana kekeringan selama musim kemarau.


Daerah yang rawan kekurangan air bersih terdiri atas Desa Sruni, Mriyan, Sangup, Lanjaran, Karangkendel, Keposong, Pager Jurang, Cluntang, Karanganyar, Musur, Jenowo, Grigan Lampar, dan Sukorejo.


Di Desa Sruni, Ketua RW 05 di sana, Hadi Sutarno, mengatakan sejak pertengahan Ramadan lalu warganya banyak yang terpaksa membeli air bersih dari mobil-mobil tangki yang memang sudah mondar-mandir.

"Warga Sruni, terutama di daerah rawan kekeringan, mulai bersiap diri menghadapi kemarau saat ini. Sesuai pengalaman peristiwa kekeringan tahun sebelumnya, puncak musim kemarau akan terjadi Agustus mendatang," kata Hadi.

Hadi mengatakan sebagian warga yang kesulitan mendapatkan air bersih terpaksa membeli air dengan harga Rp110 ribu hingga Rp120 ribu per tangki.

"Harga air setiap satu tangki isi 5.000 liter mencapai Rp110.000 per tangki, jika jaraknya agak jauh bisa mencapai Rp120.000 per tangki," katanya.


Hadi mengatakan warga biasanya menggunakan satu tangki berisi 5.000 liter air untuk memenuhi kebutuhan keluarga selama sepekan hingga sepuluh hari.

"Krisis air bersih sudah sering, terjadi setiap tahun jika musim kemarau tiba," ujar Darmaji (40), warga Dukuh Mlambong Desa Sruni.

Sementara itu warga yang tidak mampu membeli air harus mengambil air layak konsumsi ke mata air yang jaraknya satu hingga dua kilometer dari permukiman.

Hadi mengatakan Desa Sruni sebenarnya sudah mendapatkan bantuan untuk membuat sumur dan pengeboran sudah dilakukan di empat titik, namun upaya itu belum membuahkan hasil.

Di satu sisi, Camat Musuk, Dwi Sundarto mengatakan hingga saat ini belum ada warga Musuk yang mengajukan permohonan bantuan air bersih ke kecamatan.

(Antara/kid)