Menurut dia, apa yang disampaikan GMPPD hanya sebatas bentuk keprihatinan terhadap kondisi internal Demokrat.
"Sebenarnya tidak ada desakan untuk KLB ya, namun ini bentuk keprihatinan kami sebagai senior Demokrat atas kondisi internal partai," kata Achmad Mubarok kepada Antara di Jakarta, Sabtu (15/6) dikutip Antara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mubarok mengkritisi di internal Demokrat banyak kader yang baru masuk lalu banyak bicara mengatasnamakan parpol. Misalnya menyuarakan Demokrat ingin keluar dari koalisi Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, padahal keluar ataupun masuk koalisi ditentukan dalam mekanisme internal.
Dia juga menilai pernyataan kader Demokrat yang mengusulkan pembubaran koalisi justru menyebabkan partainya diledek parpol lain sehingga menurunkan marwah partai.
"Segelintir kader tidak paham marwah partai. Kita ingin bawa kesadaran kembali ke khitah sebagai parpol yang bersih cerdas dan santun," katanya.
Politisi senior Demokrat yang tergabung dalam gerakan ini, antara lain Anggota Majelis Tinggi Partai Demokrat Max Sopacua, pendiri Demokrat Ahmad Mubarok, dan tokoh senior lain seperti Ahmad Jaya dan Ishak.
Salah satu yang dikritisi adalah hasil Pileg 2019, dimana Demokrat memperoleh suara 7,7 persen. Meskipun lolos ambang batas parlemen namun perolehan tersebut menempatkan Demokrat di posisi urutan terendah sejak menjadi peserta pada Pemilu 2004.
Terkait kondisi ini, GMPPD menilai diperlukan adanya introspeksi dan evaluasi menyeluruh untuk kemudian bersama seluruh potensi dan kader untuk membangkitkan semangat dan langkah bersama mengembalikan marwah dan kejayaan Partai Demokrat.
[Gambas:Video CNN] (antara/osc)