Menurutnya, informasi itu diperoleh dari Ikatan Keluarga Besar Universitas Indonesia (IKB UI) dan Gerakan Nasional Kedaulatan Rakyat (GNKR).
"Beberapa hari setelah kejadian ada 87 [orang hilang], sekarang sekitar 30 orang menurut infomasi teman-teman ini masih hilang," kata Fadli di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta pada Jumat (21/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam kesempatan yang sama, perwakilan IKB UI dan GNKR Marwan Batubara meminta agar DPR segera membentuk panitia khusus (Pansus) terkait kerusuhan 22 Mei.
Selain membentuk Pansus, Marwan meminta agar DPR mendesak pemerintah membentuk tim gabungan pencari fakta (TGPF). Menurut dia, kasus kerusuhan 22 Mei harus diusut tuntas secara objektif dan transparan.
Marwan menambahkan, TGPF terkait kerusuhan 22 Mei penting guna melakukan investigasi dan mengambil langkah-langkah hukum secara menyeluruh demi mendapatkan hasil-hasil penyelidikan yang objektif, transparan, akuntabel, berkeadilan, sesuai hukum dan prinsip-prinsip HAM, serta dapat diterima publik.
Hasil itu didapat dari proses autopsi yang dilakukan di rumah sakit milik Polri.
"Hasilnya bahwa empat jelas itu merupakan korban meninggal karena adanya peluru tajam," kata Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabag Penum) Divisi Humas Polri Kombes Asep Adi Saputra saat di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (17/6).
Sementara itu, terhadap lima korban lain, polisi tidak melakukan autopsi karena sudah dibawa oleh pihak keluarga.
[Gambas:Video CNN] (mts/ugo)