Beratnya pembuktian dinilai jadi hambatan dalam permohonan ini. Tudingan tanpa bukti kuat dianggap tak cukup untuk meyakinkan sembilan hakim konstitusi MK.
Lihat juga:MK Tolak Gugatan Sengketa Pilpres Prabowo |
Sidang sengketa Pilpres di MK digelar pertama kali pada Jumat (14/6). Sejumlah drama terjadi dalam sidang, terutama dari kubu 02, yang berkukuh bahwa ada kecurangan dalam Pilpres 2019.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketua MK Anwar Usman. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) |
MK menilai video itu berisi arahan pimpinan kepolisian untuk menyukseskan program pemerintah, bukan memenangkan Jokowi-Ma'ruf.
"Mahkamah tidak menemukan bukti yang meyakinkan perihal kebenaran terjadinya peristiwa yang didalilkan pemohon terkait ketidaknetralan aparat negara," kata Hakim Konstitusi Aswanto.
Kedua, soal kecurangan TSM berupa pembatasan pers, terutama tayangan Indonesia Lawyers Club (ILC). Namun, pemohon dianggap tak bisa membuktikan hubungan sebab akibat antara tayangan itu dengan perolehan suara di pilpres.
Ketua Tim Hukum Prabowo-Sandiaga, Bambang Widjojanto (kanan) mengaku sulit melakukan pembuktian di MK dengan durasi sidang yang pendek yakni 14 hari. (CNN Indonesia/Safir Makki) |
Ketiga, soal kecurangan TSM. Alat bukti yang diajukan pemohon salah satunya adalah kesaksian dari Hairul Anas. Dia mengaku melihat Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf, Moeldoko, mengatakan bahwa kecurangan adalah bagian dari demokrasi dalam pelatihan saksi atau training of trainer (tot) di Hotel El Royale Jakarta pada Februari.
Namun, MK menyebut penanganan kecurangan TSM itu adalah kewenangan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).
Keempat, soal klaim perolehan suara. Kubu Prabowo menyatakan kubu 02 meraih 68.650.239 suara atau 52 persen sedangkan Jokowi-Ma'ruf hanya meraih suara 63.573.169 suara atau 48 persen. Klaim itu berbeda dengan hasil rekapitulasi KPU pada 21 Mei 2019 yang justru menyatakan Jokowi-Ma'ruf mendapatkan 85.607.362 atau 55,5 persen. Sedangkan Prabowo-Sandi mendapatkan 68.650.239 suara.
Majelis Hakim menyebut Prabowo-Sandi tak menyertakan bukti rekapitulasi dari tiap provinsi. Kubu 02 hanya menyertakan foto dan hasil pindai yang tak jelas sumbernya.
Saksi kubu 02 Beti Kristiana menyebut ada dugaan kecurangan berupa pembuangan dokumen pemilu berdasarkan pengakuan pihak yang tak ia kenal. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) |
Kelima, soal tudingan 22 juta Daftar Pemilih Tetap (DPT) siluman. Jumlah itu diklaim berdasarkan penambahan 5,7 juta Daftar Pemilih Khusus (DPK). Pihak kubu 02 pun meminta KPU membuka dafar hadir pemilih (C7) agar semuanya terang.
Hakim Konstitusi Saldi Isra mengatakan KPU sudah melakukan perbaikan daftar pemilih. Terlebih, kubu 02 tak mampu menghadirkan bukti bahwa orang yang masuk 22 juta DPT tambahan itu menggunakan hak pilihnya dan merugikan mereka.
Keenam, soal kecurangan pemilu lewat Sistem Informasi Penghitungan Suara (Situng) KPU. Tim hukum Prabowo-Sandi menyebut ada banyak kekacauan input data dalam Situng yang merugikan mereka.
Misalnya, kasus di TPS 17 di Desa Lembur Situ, Kecamatan Situ Mekar, Kota Sukabumi, Jawa Barat. Di TPS itu perolehan suara paslon 01 adalah 42 suara, paslon 02 adalah 161 suara. Namun dalam Situng tertulis paslon 01 memperoleh 161 suara dan paslon 02 dapat 42 suara.
Ahli yang dihadirkan KPU, Marsudi Wahyu Kisworo, menyebut Situng tak bisa diakses dari luar dan bukan merupakan hasil resmi pemilu. (CNN Indonesia/Andry Novelino) |
KPU sebelumnya menyebut bahwa Situng merupakan upaya check and balances terhadap hasil pemilu, dan tidak menentukan hasil pemilu.
"Situng bukan sebagai data final karena masih dimungkinkan koreksi berjenjang," kata Hakim Suhartoyo di gedung MK, Jakarta Kamis (27/6).
Ketujuh, soal dana kampanye Jokowi-Ma'ruf. Kubu 02 mempermasalahkan penerimaan sumbangan dana kampanye paslon 01 sebesar Rp19.508.272.030. Di saat yang sama, kekayaan Jokowi yang tercatat dalam LHKPN pada 12 April 2019 hanya sekitar Rp6 miliar.
Terlebih, kubu 02 belum pernah melaporkan hal itu ke Bawaslu. MK hanya bisa memproses soal dana kampanye itu jika Bawaslu pernah memprosesnya.
"Dana kampanye pasangan calon presiden dan wakil presiden 01 telah sesuai dengan peraturan undang-undang yang berlaku," ucap Arief Hidayat dalam sidang di Gedung MK, Jakarta, Kamis (27/6).
[Gambas:Video CNN]
Ketua MK Anwar Usman. (
Ketua Tim Hukum Prabowo-Sandiaga, Bambang Widjojanto (kanan) mengaku sulit melakukan pembuktian di MK dengan durasi sidang yang pendek yakni 14 hari. (
Saksi kubu 02 Beti Kristiana menyebut ada dugaan kecurangan berupa pembuangan dokumen pemilu berdasarkan pengakuan pihak yang tak ia kenal. (
Ahli yang dihadirkan KPU, Marsudi Wahyu Kisworo, menyebut Situng tak bisa diakses dari luar dan bukan merupakan hasil resmi pemilu. (
Foto: CNN Indonesia/Fajrian
Guru Besar Ilmu Hukum UGM Eddy Hiariej. (