MKGR bersama SOKSI dan Kosgoro adalah ormas pendiri Partai Golkar. Isyarat dukungan MKGR disampaikan langsung Wakil Ketua Umum MKGR Arman Amir saat bertemu Bamsoet di Jakarta, kemarin.
"Harus diakui, berbagai capaian yang diperoleh Partai Golkar pada Pemilu 2019 ini masih belum maksimal," kata Arman.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Badan Saksi Nasional yang merupakan perintah Rakernas juga tidak terbentuk. Di tengah kondisi seperti itu, kata Arman, Partai Golkar beruntung karena para calegnya punya semangat juang tinggi.
Dia pun berkata ada harapan keluarga besar MKGR agar Bamsoet, seandainya berhasil memimpin Golkar, bisa memulai tradisi jabatan ketua umum cukup satu periode.
Tradiri itu agar regenerasi kepemimpinan partai bisa berjalan, sekaligus memberikan kesempatan kepada anak-anak muda untuk ambil bagian dalam perjuangan politik di Partai Golkar.
Menanggapi aspirasi itu Bamsoet menekankan pentingnya rapat dan koordinasi. Dia mengibaratkan rapat harian, koordinasi, maupun pleno sebagai jantungnya organisasi.
"Mekanisme rapat harian, koordinasi atau pleno diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) Partai Golkar. Pengambilan keputusan pun harus sesuai dengan AD/ART Partai. Karenanya, bagaimana keputusan rapat akan sesuai dengan AD/ART jika tidak melalui mekanisme rapat yang ada?" kata Bamsoet.
Bamsoet yang pernah menjadi Bendahara Umum DPP Partai Golkar periode 2014-2016, juga menyoroti aspirasi di tingkat daerah, terutama terkait Plt kepemimpinan.
"Ke depan pendekatan kekeluargaan akan lebih ditonjolkan. Jika ada pelanggaran di daerah, pembinaan harus didahulukan. Bukan langsung melakukan Plt kepemimpinan," pungkas Bamsoet.
Pemilihan Ketua Umum Golkar akan berlangsung pada momen Musyawarah Nasional (Munas) partai. Rencananya Munas Golkar digelar Desember 2019. Saat ini baru Bambang Soesatyo dan Airlangga Hartarto yang digadang-gadang bakal bersaing dalam pemilihan Ketua Golkar.
(wis/sur)