Namun, katanya, bergabungnya Gerindra dalam Koalisi Indonesia Kerja (KIK) belum tentu diterima oleh partai politik yang telah tergabung lebih dulu seperti PDIP, PPP, NasDem, Golkar, PKB, Hanura, dan PSI.
Sebab, masing-masing partai politik masih harus mempertimbangkan kepentingan serta keinginan Gerindra terkait jatah kursi menteri di kabinet Jokowi-Ma'ruf Amin mendatang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jokowinya ya, kalau partai-partai lain enggak tahu, masing-masing seusai dengan kepentingan dan keinginan banyaknya kursi kabinet," kata dia.
Dia menuturkan bahwa rekonsiliasi tak sebatas pada pertemuan Jokowi dan Prabowo. Menurutnya, dua sosok capres yang bertarung di Pilpres 2019 itu hanya sebatas personifikasi dari sejumlah kelompok besar yang berada di barisan pendukung.
"Prabowo dan Jokowi itu secara pribadi tidak ada permasalahan, tidak ada permusuhan tapi sebetulnya mereka berdua ini personifikasi dari kelompok yang besar yang masih mendukung masing-masing pasangan calon," kata Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf itu.
"Ibarat menyimpan bara, itu masih panas, masih besar," kata Arsul.
Jokowi dan Prabowo disebut akan bertemu pada Juli 2019 ini. Rekonsiliasi keduanya diharapkan dapat mengakhiri segala kekisruhan selama tahapan Pilpres 2019.
Gerindra disebut-sebut bakal merapat ke kubu pemerintah usai putusan MK terhadap PHPU Pilpres 2019. Selain Gerindra, ada Demokrat dan PAN yang lebih dulu disinyalir akan gabung ke Koalisi Indonesia Kerja (KIK).
Selama tahapan Pilpres 2019, ketiganya merupakan pendukung dan pengusung Prabowo-Sandiaga. Dua partai lain, yakni PKS dan Berkarya sejauh ini tetap menyatakan akan menjadi oposisi.
[Gambas:Video CNN] (mts/osc)