Hal ini diungkapkan Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetio Edi Marsudi setelah meninjau lokasi pengungsian.
"Kami sebagai pemerintah daerah melihat manusia pakai tenda apalagi di wilayah tempat perkantoran itu enggak baik. Jadi rencananya besok pagi kami akan pindahkan mereka ke Jakarta Islamic Center," kata Prasetio di DPRD DKI Jakarta, Selasa (9/7) malam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sedang berada di Kolumbia, menurut dia, keputusan ini tetap diambil.
"Saya kira ini atas dasar kemanusiaan saja. Enggak ada maksud apa-apa, kami ingin bantu," jelas Prasetio.
Kendati begitu, Prasetio mengatakan pihaknya tidak akan ikut campur mengenai proses hukum mereka di Indonesia. Prasetio mengatakan pihaknya mendorong UNHCR dan Kemeterian Luar Negeri untuk mempercepat pengurusan visa ratusan pengungsi dari Afghanistan dan Somalia tersebut.
"Masalah tuntutan teman-teman minta suaka policy silahkan saja dan sah saja mereka menuntut datang ke Jakarta ke UNHCR. Soal kepastian hukum ya enggak bisa. Saya enggak mau masuk ke ranah itu, itu adalah ranah UNHCR dan Kemeneterian Luar Negeri," tegasnya.
Ratusan pengungsi telah menduduki trotoar di Jalan Kebon Sirih sejak dua pekan lalu. Para keluarga tinggal di atas tenda yang digelar oleh mereka sendiri.
Mereka meminta UNHCR untuk memberi kejelasan visa untuk mengungsi ke negara yang aman.
Perang menjadi alasan para pencari suaka itu berada di Indonesia. Hingga kini, terdapat sekitar 14 ribu pengungsi yang terdaftar di Indonesia.
Mereka pada umumnya berasal dari Sudan, Myanmar, Somalia, dan yang terbanyak adalah Afghanistan.
Biasanya pencari di sana sadar bahwa tinggal di Indonesia nyaris mustahil karena pemerintah belum meratifikasi Konvensi 1951 tentang Pengungsi. Kendati demikian, Indonesia kerap jadi pilihan bagi pencari suaka sebagai tempat transit sebelum ke negara tujuan.
Itu sebabnya mereka kerap menyambangi kantor UNHCR untuk meminta kepastian. (ctr/agi)