Berfilantropi sendiri merupakan penyadaran dari hal-hal yang dirasa tidak rasional. Ada banyak alasan sehingga soal perasaan ini menjadi dominan. Dalam bagan filantropi, terdapat tiga hal penting untuk ditilik lebih jauh: Dermawan Mindset, Dermawan Habit, dan Dermawan Effect.
Ketiga faktor ini menjadi landasan dalam topik tema Dermawan Berqurban untuk launching program Qurban 2019, di Blora lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika ikhtiar edukasi tahap pertama ini masuk dengan sapaan verbal (bahkan visual), hal ini akan menaikkan kelas masyarakat sasaran untuk memiliki Dermawan Habit.
Dermawan Effect adalah kelanjutan dari pola tersebut, yaitu seseorang yang telah memiliki Dermawan Habit dan siap menunjukkan dampak pemahaman yang dimilikinya. Ekspresi dari Dermawan Effect ditunjukkan dari kebaikan seseorang sebagai muslim, misalnya saja dapat unjuk kedermawanan (sebagai hal yang tangible) dengan hartanya.
Dalam Islam, aktivitas menanam (pohon) pun dikategorikan sebagai perbuatan sedekah yang terpuji dan pelakunya memperoleh ganjaran dari Allah. Betapa luas kasih sayang Allah, tidak membatasi muslimin yang berbuat baik kepada sesama muslim saja.
Hal ini karena berbuat baik diperintahkan untuk disebarkan kepada seluruh manusia bahkan seluruh makhluk hidup, tidak terlepas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).
Sebaran yang luas inilah yang menjadi esensi dari Dermawan.
"Dermawan Berqurban, Berkahnya Bahagiakan Dunia" menjadi tema selebrasi (dan filantropi) yang disebarluaskan Global Qurban-ACT pada 1440 Hijriah ini.
Urgensi kurban sendiri menjadi layak dibincangkan karena dua hal. Pertama, ada hak saudara seiman yang harus ditunaikan. Ini menjadi tujuan ke mana pergerakan filantropi secara masif hendak diarahkan. Kedua, seorang muslim bisa melihat peta dunia Islam, ke mana kurban dialokasikan.
Di dalam negeri sendiri, banyak masyarakat Indonesia yang dilanda bencana dan penderitaan, salah satunya kekeringan. Di Pulau Jawa (sebagian besar di wilayah Blora, Rembang, dan Wonogiri; juga di wilayah Pati, Jepara, serta Grobogan), kekeringan diperkirakan berlangsung selama tujuh bulan.
Sementara itu di Jawa Timur diperkirakan 822 desa terancam kekeringan, meningkat dibanding tahun sebelumnya. Sebagai perbandingan, pada 2018 terdapat 725 desa yang mengalami bencana tersebut. Paparan kawasan kekeringan meluas, demikian pula jumlah penyandang masalahnya.
Tak hanya melalui momen kurban, urgensi bantuan pangan untuk sesama oleh ACT juga selalu hadir di setiap hari, salah satunya penyediaan layanan makan gratis melalui program Humanity Food Truck 2.0.
Armada yang resmi beroperasi pada pertengahan Maret 2019 tersebut memberi ribuan porsi makanan gratis, seperti armada Humanity Food Truck sebelumnya. Dilengkapi dengan fungsi armada yang kian lengkap, Humanity Food Truck 2.0 menjadi bagian ikhtiar kami untuk melayani penerima manfaat dengan maksimal.