Pernyataan itu ia sampaikan ketika menghadiri Hari Ulang Tahun atau Milad MUI ke-44 di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Sabtu (27/7). Acara itu turut dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla.
"Ini harus kita syukuri karena sepanjang sejarah belum pernah Ketua Umum MUI jadi wakil presiden," ujar Ma'ruf kepada hadirin yang hadir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, mantan Rais Aam PBNU itu mengaku bersyukur karena Jokowi memilih seorang ulama menjadi pendampingnya di Pilpres 2019.
Ia mengatakan dirinya terpaksa menggantikan posisi Jusuf Kalla (JK) sebagai wakil presiden karena JK tak bisa mencalonkan kembali. Regulasi mengatur jabatan presiden dan wakil presiden hanya dibatasi dua periode masa jabatan.
JK sendiri sempat menjadi wakil presiden periode 2004-2009 berpasangan dengan Susilo Bambang Yudhoyono dan periode 2014-2019 berpasangan dengan Jokowi.
"Sebenarnya Beliau [JK] mestinya yang jadi wakil presiden tapi karena tidak boleh maka akhirnya terpaksa saya yang jadi wakil presiden," ujar Ma'ruf.
Sulit jadi Ulama dan Umara Sekaligus
Di tempat yang sama, Jusuf Kalla memberikan masukan kepada Ma'ruf Amin tentang sulitnya menjalankan peran sebagai ulama dan umara dalam satu waktu sekaligus.
"Pak Ma'ruf Amin nanti dari ulama menjadi umara atau dua-duanya gitu kan. Nanti sulit ini, antara ulama dan umara bergabung bersama," kata JK dalam pidatonya.
JK lantas bercerita soal sifat Ketua Umum MUI pertama, Buya Hamka yang dikenalnya sebagai tokoh yang keras dan kerap memberi saran kepada pemerintah.
Menurutnya, pemerintah selalu berterima kasih atas masukan dari MUI sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah. Sebab, kata dia, berbagai masukan itu diperlukan agar pemerintah dapat menjalankan roda pemerintahan dengan baik.
"Karena, hanyalah dengan nasihat, pandangan-pandangan, daripada MUI, kita semua tentu dapat menjalankan bangsa ini, negeri ini sampai sekarang dengan sebaik-baiknya," kata JK.
[Gambas:Video CNN] (rzr/pmg)