"Jujur dalam konteks nasionalisme itu kurang ajar menurut kami. Penjaga kedaulatan kita difungsikan sebagai pemadam kebakaran yang disebabkan oleh korporasi," ujar Manajer Kampanye Pangan, Air, dan Ekosistem Esensial Kelas Walhi Wahyu A Perdana di kantornya, Jakarta, Kamis (1/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wahyu menyebut ada 613 perusahaan yang beroperasi dalam lahan konsesi itu. Pemerintah, kata dia, perlu bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan itu.
Ia mengatakan pemerintah sebenarnya bisa melakukan langkah hukum secara paksa. Apalagi Kementerian Lingkungan Hidup dan kehutanan telah memenangkan gugatan atas sejumlah perusahaan. Namun, hingga kini tidak ada eksekusinya.
"Akhir 2018, sudah diputuskan pengadilan harus ganti biaya kerugian dan pemulihan lingkungan hidup artinya bukan pakai uang negara. Tapi sampai sekarang tidak dieksekusi. Negara punya upaya paksa, bekukan rekening dan lain-lain," kata dia.
"Tapi masa setiap tahun mau membebani keuangan negara oleh kesalahan yang sebenarnya bisa ditangguhkan kepada korporasi. Tidak menyentuh akar masalah, padahal secara dasar hukumnya kuat," tambah dia.
Sebelumnya, 5.929 personel gabungan dikerahkan untuk memadamkan karhutla di Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Jambi.
Personel gabungan ini berasal dari satuan tugas darat dan udara dari unsur TNI, Polri, BPBD, Masyarakat Peduli Api, dan sejumlah kementerian/lembaga.
[Gambas:Video CNN] (ani/arh)