Hal itu diungkapkan oleh Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, Sjarief Widjaja.
Sjarief menilai, bila Indonesia ingin mencapai visi sebagai poros maritim dunia, masalah minat anak muda yang rendah terhadap dunia perikanan mesti diselesaikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penurunan minat rumah tangga nelayan ini problem besar. Dalam 10-50 tahun lagi kita akan shortened nelayan karena putra nelayan justru tidak mau jadi nelayan," ujar Sjarief di Jakarta, Selasa (6/8).
Cara untuk mengubah pemahaman dan menghapus stigma tersebut menurut Sjarief adalah dengan mempromosikan pekerjaan nelayan itu sendiri menggunakan media sosial yang digandrungi anak muda.
Bukan hanya itu, tugas lain yang mesti dikerjakan adalah membenahi tempat niaga perikanan sehingga tidak menimbulkan kesan kumuh nan jorok.
Selain itu, memberikan para nelayan peralatan terstandar untuk bekerja, seperti sarung tangan, boots, kapal yang layak, serta asuransi juga modal untuk mengembangkan usaha nelayan.
"Kalau itu terjadi, rasanya anak muda mau masuk ke bisnis sektor ini," ucap dia.
Sjarief menilai salah satu alasan minat menjadi nelayan yang masih minim adalah karena permintaan keluarga. Banyak keluarga dinilai Sjarief masih memandang pekerjaan lain lebih layak untuk dijalani dibanding menjadi nelayan.
Hal ini juga karena orang tua ingin agar anaknya dapat membantu perekonomian keluarga. "Tidak hanya nelayan, tetapi profesi seperti petani juga kemungkinan seperti itu," jelas dia. (ani/end)