Gandeng China, PLTA Sungai Kayan Resmi Dilaksanakan

CNN Indonesia | Jumat, 16/08/2019 05:02 WIB
Gandeng China, PLTA Sungai Kayan Resmi Dilaksanakan Ilustrasi PLTA. (CNNIndonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pelaksanaan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Sungai Kayan, Kalimantan Utara (Kaltara) resmi ditandatangani PT Kayan Hydro Energy dengan China Power, di Kantor Staf Presiden (KSP), Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (15/8).

Selain PLTU Sungai Kayan, kedua perusahaan itu juga bakal menggarap pembangunan proyek Kawasan Industri dan Pelabuhan Industri (KIPI) Tanah Kuning-Mangkupadi, Kaltara.

"Jadi tiga kegiatan besar itu sekaligus dalam satu kawasan terintegrasi," kata Moeldoko di kantornya.


Moeldoko menyatakan KSP akan mengawal jalannya pekerjaan yang masuk dalam proyek strategis nasional itu.

"Hari ini sebuah realisasi dari apa yang sekian lama telah diperjuangkan oleh Pak Gubernur," ujarnya.

Sementara itu Gubernur Kaltara Irianto Lambrie menjelaskan PLTA Sungai Kayan dibangun di atas lahan 12.000 hektare dengan target menghasilkan listrik hingga 9.000 megawatt.

Menurut Irianto, proyek itu telah diinisiasi PT Kayan Hydro Energy sejak 2009. Kemudian PT Kayan Hydro Energy dengan China Power menandatangani kontra kerja sama, pada 31 Oktober 2018.

"Hari ini dilanjutkan penandatangan pelaksanaan proyek," kata Irianto.

Irianto menyebut dalam proyek PLTA ini akan dibangun lima bendungan. Bendungan pertama menghasilkan 900 megawatt, bendungan kedua 1.200 megawatt, bendungan ketiga dan keempat masing-masing 1.800 megawatt, serta bendungan kelima sekitar 3.200 megawatt.

"Sehingga jumlah keseluruhan itu 9.000 megawatt. Ini akan menjadi yang terbesar di Indonesia, bahkan ASEAN. Karena kita tahu PLTA terbesar itu Sungai Asahan yang menghasilkan 600 megawatt," ujarnya.

Menurutnya, pembangunan proyek tersebut telah ditetapkan sebagai proyek strategis nasional berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 58 Tahun 2018. Irianto menyatakan secara berkala perkembangan proyek akan dliaporkan kepada Presiden Joko Widodo.

"Hubungan dengan KSP yang dipimpin Pak Moeldoko adalah tugas beliau untuk mengawasi, mengevaluasi dan mencegah adanya hambatan-hambatan. Beliau sudah menugaskan salah satu deputi untuk terus memonitor proyek pembangunan ini," ujarnya.

Selain perwakilan dari China Power, hadir juga dalam penandatangan ini Direktur Utama PT Pelindo IV Farid Padang dan Direktur Operasi II PT Adhi Karya Pundjung Setya Brata. Pembangunan proyek tersebut bakal dikerjakan oleh PT Adhi Karya dan PT Pelindo IV. (fra/fea)