Imigran di Medan Demo UNHCR Desak Dikirim ke Negara Tujuan

CNN Indonesia | Kamis, 22/08/2019 23:24 WIB
Imigran di Medan Demo UNHCR Desak Dikirim ke Negara Tujuan Ilustrasi imigran di Indonesia. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Medan, CNN Indonesia -- Ratusan imigran pencari suaka dari berbagai negara mendatangi Kantor United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) di Jalan Imam Bonjol, Medan, Sumatera Utara, Kamis (22/8). Mereka meminta agar organisasi PBB itu, memberangkatkan mereka ke negara-negara tujuan suaka, seperti Australia, Selandia Baru, Amerika dan Kanada.

Aiman Nasir, imigran asal Irak mengaku sudah bertahun-tahun tinggal di penampungan di Medan. Namun, mereka tak bisa mencari pekerjaan.
Bahkan anak-anak mereka tak bisa mendapatkan pendidikan formal. Karena itulah, ia meminta agar pemerintah Indonesia dan UNHCR segera memberangkatkan mereka ke negara tujuan suaka.

"Kami tak memiliki masa depan jika terus tinggal di sini. Anak-anak kami tidak bisa sekolah. Biaya hidup sangat kecil. Kami minta segera diberangkatkan," kata Aiman Nasir.




Selama tinggal di penampungan di Medan, para imigran ini bertahan hidup hanya dari dana bantuan PBB yang dikelola oleh lembaga nonpemerintah, International Organization for Migration (IOM) dan UNHCR. Rata-rata, seorang imigran mendapat bantuan biaya hidup sebesar Rp500 ribu hingga Rp1,5 juta per bulan.



"Jumlah itu tak cukup untuk membiayai kehidupan kami di sini. Belum lagi, tidak sedikit dari kami yang telah berkeluarga. Kami juga tak diperbolehkan mencari kerja untuk mendapat penghasilan tambahan," pungkasnya.
Bahkan, para imigran mengaku uang donasi dari negara-negara lain untuk mereka dipangkas oleh IOM. Selama tinggal di Medan, para pengungsi asal Sudan, Somalia, Ethiopia, Palestina, Irak, Afganistan, Sri Lanka dan beberapa negara lainnya ini, tak bisa bekerja. Sebab, negara maupun UNHCR tak memperbolehkan mereka bekerja.

"Saya sudah tujuh tahun tinggal di sini. Tapi sampai sekarang belum ada kejelasan dari UNHCR," jelas Ishaq Bahar imigran asal Sudan.

Sementara Ibrahim Basim, imigran asal Palestina juga menuturkan kekesalannya. Ia merasa bosan hanya bisa makan dan tidur selama tinggal di lokasi penampungan.



"Lama-lama bosan hidup seperti ini. Kami hanya makan, tidur. Mencari kerja tidak boleh. Belum lagi anak-anak kami tak bisa bersekolah di sini. Kami hanya minta diberangkatkan ke negara tujuan kami," terangnya. (fnr/ayp)