Koordinator aksi, Ambrosius menuturkan referendum merupakan jalan keluar agar diskriminasi dan rasisme terhadap masyarakat Papua tidak terulang kembali.
"Mahasiswa dan masyarakat Papua sudah sepakat meminta untuk referendum," ujar Ambrosius di sela aksi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Semua ingin pulang. Jadi kami rasa ketika kami tinggal sendiri di daerah kami, sekolah di sana saya pikir aman. Tidak ada ujaran rasis," ujarnya.
"Jadi kami minta aparat TNI/Polri dari Papua, ditindak" ujar Ambrosius.
"Saya pikir ini salah satu negara melanggar hak asasi manusia untuk menyampaikan pendapat dan mendapat informasi selayaknya. Jadi negara tidak dapat menyelesaikan masalah Papua lalu sengaja menutup akses internet," ujarnya.
Lebih dari itu, Ambrosius menginformasikan bahwa tengah terjadi kerusuhan antara aparat dengan masyarakat di Kabupaten Deiyai. Selain itu, ia menyebut aparat juga sedang melakukan penyisiran di Puncak Jaya, Papua.
"Jadi kemarin Pak Jokowi (Presiden Joko Widodo) katakan maaf-maaf tetapi mamatikan internet untuk mengirim dan menambah aparat di Papua," ujar Ambrosius.
Massa aksi menuntut sebelas hal. Pertama, mengutuk pelaku pengepungan asrama Papua di Surabaya. Kedua, menghentikan rasialisme terhadap masyarakat Papua. Ketiga, hentikan aparat TNI/Polri yang melakukan provokasi.
Keempat, buka askes jurnalis nasional dan internasional di Papua. Kelima, demiliterisasi zona Nduga. Keenam, Pemprov Papua dan Papua Barat melepaskan pakaian dinas. Ketujuh, usir Papua sama halnya dengan mengusir penjajah. Kedelapan, menolak perpanjangan Otsus.
Kesembilan, membuka akses internet yang saat ini diblokir pemerintah. Kesepuluh, berikan hak untuk menentukan nasib sendiri untuk mengakhiri rasisme dan penjajahan West Papua. Terakhir, mahasiswa Papua dan Papua Barat siap eksodus.
Rencananya, aksi juga akan dilangsungkan di depan Istana Negara.
[Gambas:Video CNN] (ain/jps/ain)