Rumah Gultom berada di gang sempit di Cempaka Baru, Kemayoran, Jakarta Pusat. Peti Jenazah tak muat, mustahil menggelar upacara khas Katolik itu untuk istri di rumah. Gultom coba peruntungan dengan meminta izin pengurus Masjid Darussalam di ujung gang rumahnya.
"Saya tidak kepikiran kalau peti jenazah itu enggak muat di gang. Akhirnya minta izin Ketua Masjid Darussalam untuk menggelar upacara di pelataran masjid," Kata Ninggor mengenang kisahnya yang jadi viral tersebut kepada CNNIndonesia.com di kediamannya, Cempaka Baru, Senin (2/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Merawat Keberagaman Melalui Tari Ketuk Tilu |
"Tapi atas kebijaksanaan ketua masjid dan pengurus, 'monggo' katanya, nanti pengajian diundur," ujar Ninggor meniru restu Haji Aricasmo.
"Mereka membantu menyiapkan upacara, menutup jalan, menyediakan kursi, memberikan makan minum tamu-tamu. Tanpa diminta tolong, mereka bergerak sendiri," kata Ninggor.
"Mulainya itu jam setengah satu siang, berlangsung selama sejam. Ya pengurus masjid sama warga sini ikut bantu-bantu angkat peti jenazah, tutup jalan, sama siapin kursi juga," Katanya.
Agus mengatakan bahwa warga Cempaka Baru tidak pernah mengalami permasalahan ataupun konflik antaragama di lingkungannya.
"Saya sudah puluhan tahun disini, enggak pernah ada konflik. Saling menghormati saja, anteng- anteng, saling bantulah," katanya.
Alhasil, kisah dari Masjid Darussalam Cempaka Baru itu pun jadi vital. Foto kebaktian tutup peti pertama kali diunggah akun Facebook Jefferson Goeltom, 26 Agustus 2019. Hingga saat ini, postingan tersebut telah dibagikan sebanyak 10 ribu kali, dengan 11 ribu komentar bernada positif tentang toleransi beragama.
(ary/ain)