600 Aksi Kamisan di Seberang Istana Tanpa Keadilan Negara

CNN Indonesia | Kamis, 05/09/2019 21:23 WIB
600 Aksi Kamisan di Seberang Istana Tanpa Keadilan Negara Suasana aksi kamisan ke-600 di seberang Istana Negara, Jakarta, Kamis, 5 September 2019. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ratusan orang berkumpul di seberang Istana Negara, Jakarta, Kamis (5/9). Sebagian orang beruban, tapi lebih banyak lagi anak muda. Mereka mengenakan pakaian hitam, menenteng poster tuntutan dan memegang payung khas Aksi Kamisan.

Ini kali ke-600 Aksi Kamisan digelar. Tuntutannya sama: meminta presiden menuntaskan kasus-kasus pelanggaran HAM.

Dalam aksi kali ini, orator menyampaikan sederet kasus baru. Bukan saja soal kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu yang masih mangkrak, tapi juga perkara teror terhadap penyidik KPK Novel Baswedan, penetapan tersangka pengacara HAM Veronica Koman, hingga indikasi upaya pelemahan terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).


"Hidup korban! Jangan Diam! Lawan!" pekikan Maria Catarina Sumarsih bersahutan dengan para peserta aksi.
Ibunda Benardinus Realino Norma Irawan atau Wawan --salah satu korban Tragedi Semanggi I-- itu menyampaikan orasi di tengah lingkaran manusia.

Ia meminta pemerintah segera membentuk pengadilan HAM. Berulangnya kekerasan dan pelanggaran HAM, menurut Sumarsih mestinya bisa jadi pelajaran bagi pemerintah agar segera menyelesaikan utang kasus-kasus pelanggaran HAM.

"Sebagai presiden, semestinya gejolak di Papua ini menjadi tonggak Bapak Presiden Jokowi untuk memperbaiki bangsa ini. Untuk memperbaiki kemanusiaan di Indonesia yang sudah 74 tahun merdeka," ujar Sumarsih di depan Istana Negara, Jakarta.

"Pengalaman Timor Timur lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia mestinya menjadi cermin Jokowi untuk mengambil sikap bahwa kasus pelanggaran HAM berat perlu diselesaikan," kata penggagas Aksi Kamisan itu.
600 Aksi Kamisan di Seberang Istana Tanpa Keadilan NegaraSumarsih, orang tua korban kerusuhan 1998, saat menghadiri Aksi Kamisan ke-600 di seberang Istana Negara, Jakarta, Kamis, 5 September 2019. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Konsistensi Aksi Kamisan menurut para aktivis dilakukan demi memperoleh jaminan keadilan dari negara. Para pegiat kemanusiaan ini tak ingin kasus pelanggaran HAM kembali terjadi di masa mendatang.

"Karena kita mau merawat ingatan kita. Bahwa kekerasan akan terus terjadi kalau keadilan tidak diberikan. Dan keadilan harus diperjuangkan, tidak ada yang diberikan cuma-cuma oleh negara ini," kata pakar hukum yang juga dosen di Sekolah Tinggi Hukum, Bivitri Susanti.

"600 kali kita hadir di sini, 600 Kamis kita teriak-teriak soal keadilan, tapi apa yang kita lihat sekarang? Di Papua sampai detik ini masih banyak kekerasan yang terjadi," lanjut dia lagi.


Bivitri juga menyinggung persoalan hukum lain terkait seleksi calon Pemimpin KPK. Ia mengkritik proses seleksi yang masih memasukkan sejumlah calon yang memiliki rekam jejak bermasalah.

Peringatan Aksi Kamisan kali ini berbeda dari biasanya. Selain beragam isu yang juga disuarakan, konsep arena orasi pun tak hanya berfokus pada satu podium.

Arena aksi dibagi menjadi dua; satu panggung untuk para orator, sementara ruang lainnya diisi kelompok paduan suara. Sehingga orasi dari para pegiat kemanusiaan itu diselingi dengan lagu bertema sosial. Sejumlah musisi tampak bergabung. Beberapa di antaranya Efek Rumah Kaca, Sal Priadi dan Oscar Lolang.

600 Aksi Kamisan di Seberang Istana Tanpa Keadilan NegaraCholil, vokalis grup musik Efek Rumah Kaca, saat menghadiri Aksi Kamisan ke-600 yang diadakan di seberang Istana Negara, Jakarta, Kamis, 5 September 2019. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Vokalis Efek Rumah Kaca, Cholil Mahmud termasuk ikut menyampaikan orasi.

Musisi yang kerap menyuarakan kritik sosial lewat lagu itu membeberkan sejumlah isu faktual. Mulai dari teror penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan yang tak kunjung diungkap hingga penersangkaan aktivis Papua, Veronica Koman.

"Setelah penganiayaan terhadap Novel KPK tetap solid, lalu dihembuskanlah, dititipkanlah orang-orang yang akan memperlemah KPK dari dalam. Ini juga termasuk teror yang akan memecah-belah sehingga masyarakat bingung siapa yang harus dipercaya," kata Cholil.

"Terakhir, teror terjadi pada pengacara publik Veronica Koman yang berusaha memperjuangkan hak-hak orang Papua agar mendapatkan pengakuan, juga meminta pengusutan tindakan rasialisme, dia juga mendapatkan teror hingga dia ditetapkan sebagai tersangka," lanjut Cholil.

Bila lazimnya Aksi Kamisan dihadiri puluhan orang, ini kali berbeda, sebab arena di sudut Monas dekat Taman Aspirasi itu penuh orang. Selain peserta yang datang untuk bersolidaritas, terdapat pula penyintas tragedi pelanggaran HAM masa lalu atau anggota keluarga korban.

600 Aksi Kamisan di Seberang Istana Tanpa Keadilan NegaraSuciwati, istri dari almarhum Munir, menghadiri Aksi Kamisan ke-600 di seberang Istana Negara, Jakarta, Kamis, 5 September 2019. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Hadir pula istri Munir Said Thalib, Suciwati bersama putrinya, Diva Suki Larasati. Selain menagih penuntasan kasus pembunuhan sang suami, Suci juga menggunakan kesempatan itu untuk memanjatkan doa.

"Ya Allah, aku bukan Sayidinna Ali yang engkau beri kemuliaan. Aku hanya manusia biasa dan aku memohon kepada-Mu sebab aku meyakini-Mu. Berilah kemudahan bagi kami untuk mengungkap pembunuhan ini. Beri kami kekuatan untuk menjadikan kebenaran dan keadilan sebagai tujuanku," kata Suciwati dengan suara bergetar.

Sementara salah satu penyintas Tragedi 1965 Tumiso mengungkapkan kendati tak mau berharap banyak lagi terhadap pemerintah, ia takjub karena Aksi Kamisan ini menarik antusias anak muda.

"Satu kemajuan yang sebelumnya tidak bisa kami gambarkan, jadi kesadaran anak muda, mahasiswa dan yang lain semakin naik. Massa ini terbanyak yang kedua, yang Aksi Kamisan ke-600 lebih banyak," tutur Tumiso saat ditemui CNNIndonesia.com di tengah masa aksi.

"Tapi saya sudah tidak ada harapan ke pemerintah, cuma masih akan datang terus ke Aksi Kamisan," sambung Tumiso lagi.


[Gambas:Video CNN] (ika/pmg)