Michael menilai ke-61 orang tersebut tidak mewakili masyarakat Papua dan Papua Barat. Bahkan pembicaraan yang dilakukan telah keluar dari subtansi permasalahan di sana.
"Jadi itulah pemerintah, saya salut sekali sama Jokowi, tapi dia salah dalam mengambil keputusan untuk menghadirkan orang Papua tersebut. Minta maaf saja tidak akan menyelesaikan masalah," ujarnya di Jakarta Pusat, Kamis (12/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bahwa orang-orang itu jangan anggap ketika orang pakai souvenir Papua, jangan dianggap semua itu kepala suku, kepala suku itu lahir dari alamiah dari sendiri, yang benar-benar kepala suku akan datang di tengah masalah terus membicarakan kecil dan besar semuanya itulah kepala suku, bukan kepala suku plat merah kayak kemarin," tuturnya.
"Mau gimana selesaikan konflik Papua, malah keluar dari subtansi masalah, minta pemekaran. Bukan itu, kita sudah minoritas, orang Papua sudah tidak ada di tanah mereka sendiri. Pemekaran untuk siapa?" kata Michael.
Jokowi menanggapi langsung sejumlah tuntutan tersebut. Mantan wali kota Solo itu akan menggunakan wewenangnya agar BUMN dan perusahaan swasta menerima 1.000 mahasiswa Papua yang baru lulus.
Kemudian ia juga menyetujui pemekaran, namun hanya untuk dua atau tiga wilayah. Jokowi pun menyetujui pembangunan Istana Kepresidenan di Papua pada tahun depan. (gst/eks)