Cerita Rusuh dan 'Hujan' Gas Air Mata saat Demo Mahasiswa DPR

CNN Indonesia | Kamis, 26/09/2019 09:17 WIB
Cerita Rusuh dan 'Hujan' Gas Air Mata saat Demo Mahasiswa DPR Para mahasiswa bertahan dari serangan gas air mata dari aparat, Selasa (24/9). (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mahasiswa bertahan dengan segala cara dari ketiadaan logistik dan persiapan menghadapi gas air mata dalam demo menentang perundangan kontroversial di sekitar gedung DPR, Selasa (24/9). Tak ketinggalan, para jurnalis peliput aksi ini juga mencari jalan untuk tetap selamat.

Diketahui, aksi demonstrasi oleh sejumlah mahasiswa di depan gedung DPR RI, Senayan, Jakarta pada Selasa (24/9) berujung rusuh.

Aksi itu dilakukan para mahasiswa untuk menolak RKUHP, revisi UU KPK yang telah disahkan DPR, dan sejumlah rancangan undang-undang lainnya yang dianggap tidak berpihak pada masyarakat.


Para mahasiswa yang berorasi di Jalan Gatot Subroto, di depan gedung DPR, mencoba memaksa masuk gedung DPR RI. Mereka juga tetap bertahan meski malam tiba; batas waktu unjuk rasa. Hal itu kemudian memicu bentrok dengan aparat kepolisian.

Selain kontak fisik dengan aparat, tembakan gas air mata turut menghujani para mahasiswa yang memenuhi Jalan Gatot Subroto hingga ruas jalan menuju arah Semanggi.

polisi menembakkan gas air mata.Polisi menembakkan gas air mata saat demo rusuh di DPR. (ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha)


Sekitar pukul 16.20 WIB, bentrok di depan gedung DPR RI dimulai. Sebagian mahasiswa berhamburan menyelamatkan diri. Sebagian lainnya memilih melawan aparat. Kebanyakan para mahasiswa tersebut mempersilakan mahasiswa perempuan untuk menyelamatkan diri terlebih dahulu ke atas jembatan penyeberangan orang.

Para jurnalis juga menyelamatkan diri ke atas JPO. Tidak lama kemudian terdengar dentuman keras. Cahaya berbuntut asap tampak mengarah ke atas JPO. Itu adalah tembakan gas air mata. Mereka yang berada di JPO menjadi panik. Mata perih dan dada terasa sesak. Massa dan para jurnalis turun ke jalanan dan menjauh ke arah Semanggi.

Tidak lama kemudian sekumpulan orang berteriak ke arah perumahan di pinggir jalan Gatot Subroto.

"Air Pak, air," begitu seru mereka.

Tak lama, siraman air mengucur dari atas rumah bertingkat tersebut.

"Makasih banyak, Pak," ujar salah seorang peserta aksi.

Tak lama kemudian sejumlah sepeda motor dengan penumpang lebih dari dua orang datang bertubi-tubi mengantar mahasiswa yang terdampak gas air mata paling parah.

Coretan pada marka jalan mengkritik DPR yang ngebut mengesahkan sejumlah UU kontroversial.Coretan pada marka jalan mengkritik DPR yang ngebut mengesahkan sejumlah UU kontroversial. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
"Kasih jalan. Air mana?" cetus seorang pengendara sepeda motor.

Para mahasiswa berdatangan ke air dari warga tersebut untuk membersihkan wajah agar terlepas dari perihnya gas air mata.

Jumlah sepeda motor yang datang membawa korban gas air mata pun juga semakin banyak. Sebagian korban kembali pulih setelah terkena air. Sebagian sepeda motor lainnya terus membawa korban ke arah Semanggi. Hal ini terjadi hingga malam tiba.

Ambulans hanya sesekali berdatangan di ruas jalan tersebut. Sesekali juga terlihat korban yang mengucurkan darah.


Pedagang Asongan


Sekitar pukul 17.30 WIB, para peserta aksi yang telah berjibaku dengan lemparan gas air mata mulai lelah. Mereka mulai mencari air minum.

Hal ini dimanfaatkan oleh pedagang asongan yang menjual air mineral. Terlihat beberapa sepeda motor membawa kardus air mineral bertumpuk. Saat sampai di sisi jalan yang dipenuhi peserta aksi, air mineral langsung ludes terjual.

Terlihat sejumlah pedagang asongan beberapa kali bolak-balik mengisi ulang stok air mineralnya. Seorang ibu paruh baya yang berjualan juga terlihat duduk di pinggir jalan dekat halte Senayan JCC sambil menghitung uang di tangannya. Meskipun, tidak jauh dari situ ada bentrok di dekat jalan layang dekat TVRI.

Aparat pun beristirahat dan beribadah saat mengawal demo mahasiswa, Selasa (24/9).Aparat pun menyempatkan diri beristirahat dan beribadah saat mengawal demo mahasiswa, Selasa (24/9). (CNN Indonesia/Safir Makki)
Seorang pedagang siomay juga tampak meraup untung dengan berjualan di depan halte Senayan JCC, halte yang menjadi 'korban vandalisme' peserta aksi. Terlihat sejumlah jurnalis membeli dagangannya hanya untuk sekedar mengganjal perut sebelum kerusuhan kembali terjadi.

Bantuan Warga

Pada sekitar pukul 18.30 WIB, aparat kepolisian yang terus menembakkan gas air mata semakin maju ke ruas jalan arah Semanggi. Saat kerusuhan reda untuk beberapa waktu, sejumlah massa memenuhi pinggiran Jalan Bendungan Jatiluhur, Bendungan Hilir. Mereka terlihat sedang istirahat dan mengobrol.

Hari semakin larut, para jurnalis juga menyempatkan diri untuk sekedar duduk dan beristirahat. Salah satu rumah warga dengan teras luas terlihat terbuka lebar. Sejumlah jurnalis pun beristirahat di teras tersebut.

Pemilik rumah terlihat duduk di sebuah bangku sambil mengoleskan pasta gigi di pipinya untuk menghindari dampak gas air mata.

"Masuk saja, bisa cuci muka. Yang punya [rumah] baik banget," kata seorang jurnalis.

Tidak lama kemudian, kerusuhan kembali terjadi. Kali ini aparat kepolisian telah mencapai jalanan di depan apartemen Park Royale. Sebagian massa pun berlarian ke ruas jalan Bendungan Jatiluhur melewati rumah warga tersebut.

Selain diserbu gas air mata, mahasiswa juga disemprot air dari water canon.Selain diserbu gas air mata, mahasiswa juga disemprot air dari water canon. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
"Ada apa ya? Rusuh lagi?" tanya pemilik rumah.

Pemilik rumah sontak langsung masuk ke dalam rumah. Para jurnalis juga menutup pagar rumah dengan sigap.

Setelah situasi terpantau kondusif para jurnalis mencoba memeriksa keadaan kembali. Para jurnalis pun memantau jalan sambil berlindung di halaman gedung Akademi Farmasi Hang Tuah di ujung Jalan Bendungan Jatiluhur.

Gedung tersebut dibuka oleh petugas TNI yang berjaga-jaga di posnya. Tidak lama kemudian sekitar pukul 21.30 WIB, polisi kembali menembakkan gas air mata. Kali ini hingga jalan Bendungan Jatiluhur dan mendekati perumahan warga.

Kemudian massa kembali berhamburan. Para jurnalis berlindung hingga masuk ke dalam gedung akademi farmasi tersebut. Gas air mata terasa hingga dalam gedung. Dentuman terdengar sangat keras dan dekat dengan gedung tersebut. Dentuman itu juga terdengar diluncurkan secara bertubi-tubi.

Para pewarta kemudian kembali berlindung di dalam gedung hingga kondisi aman.



[Gambas:Video CNN] (ani/arh)